Senin, 13 April 2020

Tuhan Mau Kita Berbeda: Meninjau Konsep Keberagaman Al-Qur’an

Nashr Hamid Abu Zaid (Pakar Hermeneutika Kenamaan Mesir)"

Oleh: Fahrurozi Umi

Berangkat dari frasa eksosentris dalam term teologis, laa ta’tsir illa li al-bari’ (لا تأثير إلا للباري)/tiada yang dapat memberi dampak (baca: akibat) yang aktual, kecuali Allah turut serta berperan di dalamnya (baca: sebab). (Lihat, al-Qaul as-Sadid fi ‘Ilm at-Tauhid, Jilid: 2, Hlm: 164, Penerbit: al-Azhar. Kairo. Tanpa tahun).

Ungkapan di atas dipopulerkan oleh para teolog bermazhab Asy’ari, dan ungkapan di atas sedikit memberikan interpretasi menyangkut hukum sebab-akibat (Kausalitas), bahwasannya yang menjadi sebab segala sesuatu itu adalah Allah swt, dan juga ungkapan di atas seakan menepis anggapan bahwasannya hukum Kausalitas adalah hukum alam.

Penulis tidak akan panjang-lebar membahas polemik di atas, hemat penulis “dalam ajaran Islam” seyogianya Kita meyakini bahwasannya segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidak lain sudah ditetapkan oleh Allah swt, dan seperti yang telah Kita ketahui bahwasannya ketetapan (taq’dir) bermula dari kehendak (iradah).

Adapun jika Kita melakukan observasi ataupun berkontemplasi, pastilah dapat Kita sadari bahwasannya semua makhluk hidup ataupun benda mati yang dapat kita jangkau pengetahuan tentangnya pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya, tidak terkecuali saudara kembar yang secara eksplisit kita lihat serupa, tapi jika kita tilik lebih jeli lagi pasti kita dapat menemukan titik perbedaannya.

Maka dari itu, jangan mempersoalkan perbedaan; karena yang demikian adalah fitrah/sifat asal makhluk ciptaan Tuhan. Dan bukankah musik akan terasa hambar jika hanya memukul genderang?

Perbedaan Arti Kosakata al-Qur’an (Qur’anic Vocabulary)

Di dalam al-Qur’an yang diyakini sebagai himpunan dari kalam-Nya pun menghendaki manusia untuk berbeda dalam memahami dan menarik kesimpulan darinya. Saya ambil contoh kata al-quru’ (القروء) yang merupakan bentuk plural dari al-qur’u (القرء) dalam QS. al-Baqarah [2]: 228 memiliki dua arti yang berbeda bahkan bertolak belakang.

Tiga quru’, oleh sementara ulama -antara lain yang bermazhab Hanafi-, dipahami dalam arti tiga kali haid. Jika demikian, yang dicerai oleh suaminya, sedang ia telah pernah bercampur dengannya dan dalam saat yang sama dia belum memasuki masa menopause, maka setelah dicerai tidak boleh kawin dengan pria lain kecuali setelah mengalami tiga kali haid. Pandangan ini berbeda dengan mazhab Malik dan Syafi'i yang memahami tiga quru' dalam arti tiga kali suci. Suci yang dimaksud di sini adalah masa antara dua kali haid.

Perbedaan pendapat ini hasilnya terlihat pada saat datangnya haid ketiga. Yang berpendapat bahwa quru’ berarti suci, maka selesai sudah iddah atau masa tunggunya ketika itu, tetapi yang memahaminya dalam arti haid, maka masa tunggunya masih berlanjut sampai selesainya haid ketiga. Yang memahaminya dalam arti suci memberi kemudahan kepada wanita, di samping memberi tenggang waktu penangguhan bagi suami. Sedangkan yang memahaminya dalam arti haid lebih memperpanjang lagi waktu penundaan bagi suami, karena perceraian tidak dilakukan kecuali dalam keadaan wanita suci. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 1, Hlm: 488, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2002).

Dari ayat di atas dapat Kita pahami bahwasannya, Allah Swt tidak memastikan atau menegaskan arti dan maksud yang terkandung di dalam kata tersebut, maka dari itu, Kita dapat memahaminya sesuai dengan makna yang dicakupnya selama tidak bertentangan dengan teks-teks keagamaan yang lain. Adapun konklusi dari paparan di atas adalah, ‘Tuhan mau kita berbeda’.

Perbedaan Interpretasi al-Qur’an (Qur’anic Interpretation)

Ayat 2 surah al-Kautsar [108] yakni pada kata fa shalli (فصلّ) dipahami oleh Ibnu Humaid sebagai perintah melaksanakan salat fardu, dan Ibnu Humaid memahaminya sebagai perintah salat id adhha, dan Ya’qub memahaminya dalam arti salat subuh/fajar di Muzdalifah. (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 26, Hlm: 1035-1041, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2010).
Sedangkan Dr. Muhmammad Sayyid Tanthawi (1928-2010 M) dan juga Mutawalli asy-Sya’rawi (1911-1998 M) memahaminya sebagai perintah untuk bersyukur, tanpa membatasi representasi dari rasa syukur itu. (Lihat Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Jilid: 15, Hlm: 522-523, Penerbit: Dar Nahdhah Mishr, Kairo. 1997). Adapun al-Alusi (1802-1854 M) memahaminya sebagai perintah untuk berdoa. (Lihat, Ruh al-Ma’ani, Jilid: 15, Hlm: 343, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2009).

Adapun kata inhar (انحر) dipahami oleh Ibnu Humaid sebagai perintah meletakkan tangan kanan di tengah pergelangan tangan kiri, kemudian menempatkannya di atas dadanya ketika salat, dan Ibnu Humaid memahaminya dalam arti menyembelih hewan kurban, dan Ya’qub memahaminya dalam arti menyembelih hewan kurban di Mina. (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 26, Hlm: 1035-1041, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2010).

Sedangkan al-Alusi (1802-1854 M) memahami perintah di atas dalam arti berakikah. (Lihat, Ruh al-Ma’ani, Jilid: 15, Hlm: 343, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2009). Dan di sini pun, sekali lagi Allah tidak memastikan makna dan maksud yang terkandung pada kalimat perintah di atas. Dan konklusi yang dapat diambil di sini adalah, Tuhan memang mau kita berbeda.

Ragam bacaan (qira’at) al-Qur’an

Tiliklah ragam bacaan (qira’at) QS. Al-Ahzab [33]: 33 yang Ibnu Jarir ath-Thabari (839-923 M) tuliskan dalam tafsirnya Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Mayoritas ulama qira’at Madinah dan sementara ulama qira’at Kufah membaca huruf qaf (ق) pada kalimat “وقرْن في بيوتكنّ” dengan fathah yakni, wa qarna fi buyutikunna (وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ). Sedang, sebahagian besar ulama qira’at Kufah dan Bashrah membaca huruf qaf (ق) pada kalimat di atas dengan kasrah yakni, wa qirna fi buyutikunna (وَقِرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ).

Apakah perbedaan bacaan di atas memengaruhi penafsiran ayat tersebut? -dengan jawaban singkat- iya. Jika kata tersebut Kita baca dengan fathah -yakni wa qarna- maka makna yang hadir adalah berdiamlah kalian -isteri-isteri Nabi- di rumah-rumah kalian. Dan jika Kita membacanya dengan kasrah -yakni wa qirna- maka makna yang hadir adalah tenanglah kalian di rumah-rumah kalian. (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 19, Hlm: 96, Penerbit: Hajr. Kairo. 2001). Dan lebih daripada itu, legalitas hukum yang hadir pun akan berbeda, jika kita memahami kata perintah tersebut dengan arti ‘berdiamlah’, maka ayat tersebut berupa penegasan terhadap wanita agar tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan yang mendesak. Sedang, jika kita memahaminya dalam arti ‘tenanglah’, maka perintah tersebut hanya berupa anjuran untuk berdiam di rumah dan diperbolehkan untuk keluar jika ada kebutuhan.

Prihal Legalisasi Kronologi Turunnya Ayat (Asbab an-Nuzul)

Salah-satu objek kajian di dalam ilmu al-Qur’an (‘Ulum al-Qur’an/Qur’anic Theory) tepatnya prihal legalisasi kronologi turunya ayat dan penerapannya dalam memahami teks-teks al-Qur’an, dikenal dengan dua ungkapan, pertama, al-‘ibrah bi ‘umum al-lafzhi la bi khushush as-sabab (العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب)/Patokan dalam memahami ayat adalah lafaznya yang bersifat umum, bukan sebabnya. Dan yang kedua -ini yang dianut oleh segelintir ulama-, al-‘ibrah bi khushush as-sabab la bi ‘umum al-lafzhi (العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ)/Pemahaman ayat adalah berdasar ‘sebabnya’ bukan redaksinya yang bersifat umum. (Lihat, ‘Ulum al-Qur’an al-Karim, Hlm: 28-29, Penerbit: al-Azhar. Kairo. 2020).

Dua kaidah di atas dapat Kita terapkan pada QS. Al-Maaidah [5]: 33, firman-Nya: “Tidak lain balasan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di bumi, kecuali mereka dibunuh tanpa ampun, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, atau diasingkan dari bumi (tempat tinggalnya).”

Salah satu riwayat menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan hukuman yang ditetapkan oleh beberapa sahabat Nabi saw., dalam kasus suku al-‘Urainiyin. Imam Bukhari (810-870 M) meriwayatkan bahwa sekelompok orang dari suku ‘Ukal dan ‘Urainah datang menemui Nabi saw., setelah menyatakan keislaman mereka. Mereka mengadu tentang sulitnya kehidupan mereka. Maka beliau memberi mereka sejumlah unta agar dapat mereka manfaatkan. Di tengah jalan mereka membunuh pengembala unta itu, bahkan mereka murtad. Mendengar kejadian tersebut, Nabi saw., mengutus pasukan berkuda yang berhasil menangkap mereka. Pasukan itu memotong tangan dan kaki serta mencungkil mata mereka dengan besi yang dipanaskan, kemudian ditahan hingga meninggal.

Kalau kita memahami makna memerangi Allah dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di bumi dalam pengertian umum, terlepas dari Sabab an-Nuzulnya, maka banyak sekali kedurhakaan yang dicakup oleh redaksi tersebut. Nah, apakah kaidah di atas mencakup semuanya ? jawabannya: Tidak! Keumuman lafaz itu terikat dengan bentuk peristiwa yang menjadi Sabab an-Nuzul sehingga ayat ini berbicara tentang sanksi hukum bagi pelaku yang melakukan perampokan yang disebut oleh sebab di atas, yakni sekelompok orang dari suku ‘Ukal dan ‘Urainah, serta semua yang melakukan seperti apa yang dilakukan oleh rombongan kedua suku itu (baca: perampokan).

Sedang, yang memahami ayat berdasar ‘sebabnya’ bukan redaksinya, kendati redaksinya bersifat umum. Jadi, menurut mereka ayat di atas hanya berlaku terhadap kedua suku ‘Ukal dan ‘Urainah.

Sementara ulama berkata bahwa kendati kedua rumusan di atas bertolak-belakang, tetapi hasilnya akan sama, karena hukum perampokan yang dilakukan selain mereka dapat ditarik dengan menganalogikan (qiyas) kasus baru dengan kasus turunnya ayat di atas. (Lihat, ‘Ulum al-Qur’an al-Karim, Hlm: 29, Penerbit: al-Azhar. Kairo. 2020).

Agaknya persoalan di atas tidak sesederhana apa yang dikemukakan ini dan tidak selalu hasilnya sama, karena bisa saja semua menggunakan analogi, tetapi syarat-syarat penggunaannya dapat berbeda antara satu mazhab dengan mazhab lain. Selanjutnya, apakah ketetapan hukum baru harus juga mempertimbangkan tempat dan waktu serta situasi kejadian atau tidak? Kalau tidak mempertimbangkannya, maka apa makna analogi itu?

Memang para ulama membahas maksud yang bersifat umum itu, dalam hal ini adalah kalimat yuharibuna Allah wa Rasulahu (memerangi Allah dan Rasul-Nya). Imam Malik (771-795 M) memahaminya dalam arti “mengangkat senjata untuk merampas harta orang lain yang pada dasarnya tidak ada permusuhan antara yang merampas dan yang dirampas hartanya,” sebagaimana kasus di atas, baik perampasan tersebut terjadi di dalam kota maupun di tempat terpencil. Imam Malik (771-795 M), dengan demikian, tidak sepenuhnya mempertimbangkan tempat dan situasinya. Ini berbeda dengan Imam Abu Hanifah (699-767 M) yang menilai bahwa perampasan tersebut harus terjadi di tempat terpencil, seperti halnya kasus turunnya ayat ini, sehingga jika terjadi di kota atau tempat keramaian, maka ia tidak termasuk dalam kategori yuharibuna Allah wa Rasulahu.  (Lihat, Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qut’an, Hlm: 239-242, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2015).

Perbedaan Teori Interpretasi al-Qur’an (Qur’anic Interpretation Theory)

Penulis ambil contoh pendekatan Denotasi atau yang menitikberatkan pada pemahaman makna zahir teks dan pendekatan Konotasi atau yang menitikberatkan pada pengertian yang implisit/tersirat, dalam firman Allah swt QS. Al-Maaidah [5]: 38:
السَّارقُ والسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما جَزاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً من الله وَالله عَزِيزٌ حَكِيمٌ (38)

“Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5]: 38).

Dapat dipahami melalui dua pendekatan di atas, Sayyid Quthb (1906-1966 M) -pujangga dan penafsir kenamaan Mesir- dalam tafsirnya fi Zhilal al-Qur’an memahami perintah faqtha’u (فاقطعوا) di atas melalui pendekatan denotatif, yakni Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan sanksi potong tangan bagi pencuri laki-laki dan pencuri perempuan; karena secara etimologis kata qatha’a (قطع) berarti memotong atau memisah (ash-Sharmu (الصرم)). (Lihat, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Jilid: 5, Hlm: 101, Penerbit: Dar al-Fikr, Beirut. 1399 H).

Adapun kata aydiyahuma (أيديهما)/tangan keduanya yang merupakan bentuk plural dari yad (يد) dipahami olehnya dengan makna etimologisnya yakni tangan atau anggota badan dari siku sampai ke ujung jari dari pergelangan sampai ujung jari (Lihat, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Versi: Digital, Sumber: Play Store). (Lihat, fi Zhilal al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 271-272, Penerbit: Dar asy-Syuruq. Kairo. 2003).

Sedangkan pendapat sementara ulama -yang dikutip Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Mishbah tanpa menyebutkan nama ataupun sektenya- memahami perintah (فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما) “Potonglah tangan keduanya.” Melalui pendekatan konotatif atau dalam arti Majazi/metafora, yakni lumpuhkan kemampuannya!; ini dikarenakan konotasi dari kata qatha’a (قطع) adalah melumpuhkan, dan konotasi dari kata yad (يد) adalah kekuasaan/kemampuan (al-Quwwah (القوة)).

Pelumpuhan dimaksud antara lain mereka pahami dalam arti “penjarakan dia!”; karena dengan memenjarakannya dia tidak dapat melakukan tindak kriminal apapun, dan ini selaras dengan frasa yang populer di kalangan orang-orang Arab yaitu iqtha’u lisanahu (اقْطَعُوا لِسَانَهُ)/potonglah lidahnya dalam arti jangan biarkan dia mengomel atau mengecam dengan jalan memberinya uang. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 3, Hlm: 94-95, Penerbit: Lentera Hati, Tangerang. 2002).

Perbedaan Teori Ushul Fiqh (Islamic Legal Theory)

Penulis ambil contoh teori Naskh (نسخ)/penghapusan, di sini penulis mendudukkan persoalan pada polemik penahapan hukum (at-Tadarruj (التدرّج)), apakah ayat yang datang setelah ayat yang berbicara mengenai objek hukum yang sama menghapus hukum yang lama atau tidak ?.

Ambillah sebagai contoh ayat-ayat yang berbicara tentang minuman keras. Sementara ulama menyatakan bahwa ayat pertama yang berbicara tentang minuman keras adalah QS. An-Nahl [16]: 67: “Dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.”

Pada ayat di atas Allah Swt tidak berbicara secara spontan mengenai keharaman dan dampak negatif dari meminum khamar, melainkan hanya mengontraskan antara rezeki yang baik dan rezeki yang tidak baik.

Setelah itu, turun QS. Al-Baqarah [2]: 219: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari keduanya’.” Di sini telah ditegaskan keburukannya.

Selanjutnya turun ayat ketiga, yakni firman-Nya dalam QS. An-Nisa’ [4]: 43: “Hai orang-orang yang beriman !, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menyadari apa yang kamu ucapkan.” Di sini telah lahir larangan, walau hanya pada waktu-waktu tertentu, yakni menjelang pelaksanaan salat.
Ayat terakhir menyangkut minuman keras menyatakan: “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

Bagi yang berkata ada nasikh/pengahapusan, maka dia telah menutup kemungkinan adanya penahapan (at-Tadarruj) dengan alasan hukum final tentang khamar telah ditetapkan. Sedangkan yang tidak menganggap ayat-ayat di atas mengandung nasikh, masih memberlakukan tuntunan ayat-ayat tersebut bagi mereka yang baru masuk Islam, tetapi telah terbiasa dengan minuman keras, masih memberlakukannya buat mereka, tetapi mengharuskan mereka agar tahap demi tahap meninggalkannya. (Lihat, Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qut’an, Hlm: 291-294, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2015).

Paparan di atas, penulis memusatkan perhatian pada kajian al-Qur’an dan ilmunya; karena al-Qur’an merupakan representasi dari kehendak (iradah) Tuhan yang sebenarnya. Dengan al-Qur’an -yang di mana dianalogikan oleh Muhammad Abdullah Diraz seperti mutiara yang ketika dilihat dari satu sisi yang memancarkan sinar, maka sisi lain pun memancarkan sinar lain yang berbeda-beda- Kita dapat menyadari bahwasannya Kita dituntut untuk berbeda dalam hal apapun oleh Tuhan tidak terkecuali dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, menganalogikan al-Qur’an sebagai “Hidangan Tuhan”, yakni di samping Si Penghidang adalah yang Maha Kaya, maka jangan heran jika hidangan yang dihidangkan-Nya pun bermacam-macam, kita juga dipersilahkan untuk mencicipi hidangan tersebut, dengan membebaskan setiap orang untuk menyantap semua makanan yang terhidang.

Maka dari itu, perbedaan yang telah ditetapkan oleh Tuhan ini layaknya kita rawat dan jaga, yakni dengan saling mengenal, menghargai perbedaan dan saling berbagi kasih, seperti dalam firman-Nya: “Wahai manusia ! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13). -Allah A’lam-

Daftar Rujukan:

1. Buku: al-Qaul as-Sadid fi ‘Ilm at-Tauhid, Penulis: Abu Daqiqah, Penerbit: al-Azhar. Kairo. Tanpa tahun.

2. Buku: Tafsir al-Mishbah, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2002.

3. Buku: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Penulis: Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2010.

4. Buku: Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Penulis: Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi, Penerbit: Dar Nahdhah Mishr, Kairo. 1997.

5. Buku: Ruh al-Ma’ani, Penulis: Mahmud al-Alusi Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2009.

6. Buku: Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, Penulis: Sayyid Quthb, Penerbit: Dar asy-Syuruq, Kairo. 2003

7. Buku: Mu’jam Maqayis al-Lughah, Penulis: Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakaria, Penerbit: Dar al-Fikr. Beirut. 1399 H.

8. Buku: Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qut’an, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2015.

9. Buku: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Penulis: Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Penerbit: Hajr. Kairo. 2001.

10. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Versi: Digital, Sumber: Play Store.

(Penulis adalah mahasiswa fakultas tingkat 2 fakultas ushuluddin Universitas Al-Azhar)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca