Selasa, 31 Maret 2020

Konseptualisasi Tafsir (3); Rekonstruksi Interpretatif Sanksi Potong Tangan



Oleh: Fahrurozi Umi

Anak kecil kisaran berumur lima sampai enam tahun di Indonesia -tidak terkecuali di Banten- sudah diberi wangsit oleh kedua orang tuanya -terutama keluarga Muslim- bahwa orang yang mencuri -apapun itu bentuknya- akan dipotong tangan dan kakinya, berangkat dari doktrin (baca: ancaman/kecaman) itu, mereka pun was-was dan takut untuk melakukan tindak kriminal (baca: pencurian).

Pada prinsipnya, perumusan sanksi dan hukuman tidak lain sebagai kontrol sosial, yang di mana bertujuan untuk menegakkan panji keadilan bagi setiap individu dan membumihanguskan kezaliman.
Sanksi potong tangan yang biasa diperuntukan bagi pencuri ini populer dalam literasi khazanah Islam. lain halnya dengan Hukum Positif di Indonesia, yang di mana sanksi dan hukum pidana telah dirumuskan/diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sebagai contoh: Bab XXII Pasal 362 KUHP prihal Pencurian Biasa, “Barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.” (Lihat, https://seniorkampus.blogspot.com).

Adapun sanksi potong tangan yang dikenalkan oleh Islam itu sendiri, berdasar pada firman Allah swt QS. Al-Maaidah [5]: 38:

السَّارقُ والسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما جَزاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً من الله وَالله عَزِيزٌ حَكِيمٌ (38)

“Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5]: 38).

Dengan ayat di atas dan teks-teks keagamaan lain yang mendukungnya, umat Muslim dengan tegas menggeneralisir sanksi potong tangan bagi pencuri -baik laki-laki ataupun perempuan- yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Apakah mencuri sama dengan korupsi, merampok, merampas dan mencopet ?
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab berpendapat bahwa mencuri berbeda dengan korupsi, merampok, mencopet dan merampas. Mencuri adalah mengambil secara sembunyi-sembunyi barang berharga milik orang lain yang disimpan oleh pemiliknya pada tempat yang wajar, dan si pencuri tidak diizinkan untuk memasuki tempat itu. Dengan demikian, siapa yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya tetapi diamanatkan kepadanya, maka ia tidak termasuk dalam pengertian mencuri oleh ayat ini, seperti jika bendaharawan menggelapkan uang. Tidak juga jika mengambil harta, di mana ada walau sedikit dari harta itu yang menjadi miliknya, seperti dua orang atau lebih yang bersyarikat dalam sebuah usaha, atau mengambil dari uang negara. Tidak juga disebut pencuri orang yang mengambil sesuatu dari satu tempat yang semestinya barang itu tidak diletakkan di sana. Toko yang terbuka lebar, atau rumah yang tidak terkunci, bila dimasuki oleh seseorang lalu mengambil sesuatu yang berharga, maka yang mengambilnya terbebaskan dari hukum potong tangan karena ketika itu pemilik toko atau rumah tidak meletakkan barang-barangnya di tempat wajar, sehingga merangsang yang lemah keberagamaannya untuk mencuri.

Demikian, agama di samping melarang mencuri, juga melarang pemilik harta membuka peluang bagi pencuri untuk melakukan kejahatannya. Alhasil, hukuman ini tidak serta merta dijatuhkan, apalagi Rasul saw. bersabda, “Hindarilah menjatuhkan hukuman bila ada dalih untuk menghindarinya.” (HR. Ibnu Adiy). (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 3, Hlm: 93-94, Penerbit: Lentera Hati, Tangerang. 2002).

Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA -Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta- pernah mengutarakan sebuah interpretasi menyangkut ayat di atas -pada pertemuan keempat kajian rutin mingguan Tafsir Isyari yang bertempat di Masjid Bait al-Qur’an, Tangerang- tanpa menggenealogikannya kepada seorang cendikiawan ataupun sekte tertentu, dia hanya menguraikan sebuah penafsiran yang penulis nilai sedikit berbeda dengan penafsiran yang dihidangkan oleh penafsir-penafsir kenamaan klasik seperti ath-Thabari (839-923 M), al-Qurthubi (1214-1273 M), ar-Razi (1149-1210 M), az-Zamakhsyari (1075-1114 M), Abu Su’ud (1490-1574 M), dan lain-lain.

Dia berpagi-pagi memaparkan sebuah metode/pendekatan guna memahami teks-teks al-Qur’an yakni pendekatan Denotasi atau yang menitikberatkan pada pemahaman makna zahir teks dan pendekatan Konotasi atau yang menitikberatkan pada pengertian yang implisit/tersirat, kemudian dia mengaplikasikan kedua kaidah tersebut pada ayat 38 surah al-Maaidah di atas, dia menguraikan bahwasannya kata faqtha’u (فاقطعوا)/potonglah dapat dipahami melalui dua pendekatan di atas, jika kita menggunakan pendekatan denotatif pada kata tersebut, maka pemahaman yang dihasilkan adalah benar-benar perintah untuk memotong; karena secara etimologis kata qatha’a (قطع) berarti memotong atau memisah (ash-Sharmu (الصرم)). (Lihat, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Jilid: 5, Hlm: 101, Penerbit: Dar al-Fikr, Beirut. 1399 H). Dan kata faqtha’u (فاقطعوا) jika dipahami melalui pendekatan konotatif, maka pemahaman yang hadir di benak kita menyangkut kata qatha’a (قطع) adalah melumpuhkan, sama halnya dengan memotong, yang bertujuan melumpuhkan -kekuatan/kemampuan- sesuatu yang dipotong.

Adapun kata aydiyahuma (أيديهما)/tangan keduanya yang merupakan bentuk plural dari yad (يد) dapat diberlakukan dua pendekatan di atas, sementara pakar memahami kata yad (يد) dengan makna etimologisnya yakni tangan atau anggota badan dari siku sampai ke ujung jari dari pergelangan sampai ujung jari (Lihat, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Versi: Digital, Sumber: Play Store). Dan sementara pakar lainnya memahami kata yad (يد) dengan makna konotatifnya yakni kekuasaan/kekuatan (al-Quwwah (القوة) sebagaimana pada firman-Nya QS. Al-Fath [48]: 10: يَدُ الله فَوْقَ أَيدِيهم “Tangan/kekuasaan Allah di atas tangan-tangan/kekuasaan-kekuasaan mereka”. Sehingga, jika kita di Indonesia menerapkan KUHP pada kasus pencurian dengan memenjarakannya; kita tidak dinilai melanggar syariat Islam sebagaimana yang terkandung pada ayat di atas, karena kita memahami penggalan ayat di atas yakni (فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما) dengan “Lumpuhkanlah kekuatan-kekuatannya (pencuri).” Dan dengan memenjarakannya, kita telah berupaya melumpuhkan kekuatannya untuk melakukan tindak kriminal (baca: pencurian).

Konsep di atas juga sejalan dengan tujuan diberlakukannya sebuah hukum (Maqashid asy-Syari’ah (مقاصد الشريعة)) yakni memastikan keamanan dan keadilan bagi setiap individu (al-‘Adalah (العدالة)) serta membumihanguskan kezaliman, dan demikian akan terwujud dengan memenjarakan/menahan pencuri di balik jeruji besi; karena jika hanya memotong tangannya saja, tidak menutup kemungkinan dia memiliki ajudan yang banyak yang akan melanjutkan estafet kegiatan kriminalnya dikarenakan dia memiki otoritas/kekuatan untuk mengendalikan orang lain dengan keterbatasan fisiknya.

Adapun dari sumber yang lain, penulis menemukan pendapat senada dengan pendapat di atas yakni dalam buku Tafsir al-Mishbah karya Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, dia mengutip di dalamnya pendapat sementara orang -tanpa menyebutkan nama/sektenya- yang memahami perintah (فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما) “Potonglah tangan keduanya.” dalam arti Majazi/metafora, yakni lumpuhkan kemampuannya !. Pelumpuhan dimaksud antara lain mereka pahami dalam arti “penjarakan dia !” akan tetapi Quraish Shihab secara eksplisit menanggapi penafsiran tersebut dengan menggenealogi dalih yang menjadi acuan penafsiran di atas, yaitu frasa iqtha’u lisanahu (اقْطَعُوا لِسَانَهُ)/potonglah lidahnya dalam arti jangan biarkan dia mengomel atau mengecam dengan jalan memberinya uang. Tetapi memahami potonglah tangannya serupa dengan potonglah lidahnya di samping tidak sejalan dengan praktek Rasul saw., juga tidak dikenal oleh masyarakat pengguna bahasa Arab pada masa turunnya al-Qur’an. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 3, Hlm: 94-95, Penerbit: Lentera Hati, Tangerang. 2002).

Adapun Sayyid Quthb (1906-1966 M) -pujangga dan penafsir kenamaan Mesir- itu mengutarakan sebuah pandangan dalam Tafsirnya fi Zhilal al-Qur’an menyangkut hukuman penjara yang dijatuhkan terhadap pidana pencurian yakni dengan memaparkan kelemahan dari sanksi tersebut, adapun -tulis Sayyid Quthb- hukuman penjara yang temporer, tidak akan dapat mencegah pelaku kriminal -tidak terkecuali pencurian- untuk tidak mengulanginya kembali, dan jika demikian, maka tidak pula sampai kepada hakikat dan tujuan dari pemberlakuan dan perumusan sanksi itu sendiri yakni penjeraan; itu dikarenakan, dia tidak dapat melakukan tindak pidana hanya ketika dia berada di balik jeruji besi -itupun jika dia tidak memiliki anak buah, terlebih jika dia memiliki pesuruh yang bergerak aktif di luar penjara, maka dengan segala otoritasnya dia dapat melakukan segala hal yang dia inginkan-, adapun jika telah habis masa hukumannya di penjara; maka dia dapat melakukan tindak kriminal sesukanya. Maka dari itu sanksi yang paling efektif adalah apa yang Allah perintahkan dalam firman-Nya -yakni potong tangan-. (Lihat, fi Zhilal al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 273, Penerbit: Dar asy-Syuruq. Kairo. 2003).

Senada dengan Sayyid Quthb (1906-1966 M), Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (1932-2015 M) mengutarakan alasan serupa mengenai efisiensi sanksi potong tangan dalam tafsirnya al-Munir. Hukuman ini -tulis az-Zuhaili- meskipun ada sementara kalangan yang memandang negatif dan sinis terhadapnya, hukuman ini merupakan sanksi hukuman yang pas dan sangat efektif lebih bisa memberikan efek jera sekaligus menjadi pelajaran bagi orang lain, serta lebih bisa menciptakan keamanan bagi harta benda dan jiwa masyarakat. Tidak ada orang yang bisa memahami dan merasakan berbagai dampak bahaya psikis dan mental yang diakibatkan oleh tindak kriminal pencurian, serta kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan yang dimunculkan oleh tindak kriminal yang satu ini, terutama pada malam-malam yang gelap, kecuali korban yang mengalaminya. (Lihat, at-Tafsir al-Munir, Jilid: 3, Hlm: 514, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2003).

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (1932-2015 M) merangkum serta mendialogkan pendapat-pendapat imam mazhab kenamaan Sunni dengan penafsiran di atas dalam tafsirnya al-Munir dan penulis nilai ini dapat merepresentasikan penafsiran ulama-ulama klasik, tulisnya, Allah Swt menetapkan dan memerintahkan para pengelola kekuasaan dan pemegang otoritas hukum untuk menerapkan hukuman potongan tangan terhadap pencuri, baik laki-laki maupun perempuan.

Barangsiapa mencuri, baik laki-laki maupun perempuan, ia dijatuhi hukuman potongan tangan mulai dari pergelangan tangan. Pertama-tama, tangan yang dipotong adalah tangan kanan. Kemudian jika ia melakukan pencurian lagi, dipotong kaki kirinya mulai dari pergelangan kaki. Kemudian jika ia mengulangi lagi perbuatan mencuri, dipotong tangan kirinya. Kemudian jika masihmengulangi lagi perbuatan mencuri, maka dipotonglah kaki kanannya. Kemudian jika ia kembali mengulangi lagi perbuatan mencuri, ia dihukum takzir dan dipenjara. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ad- Daraquthni, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila ada seseorang mencuri, maka potonglah tangannya. Kemudian jika ia kembali mencuri lagi, maka potonglah kaki kirinya." (HR. ad-Daraquthni). Ini pendapat ulama mazhab Maliki dan mazhab Syafi’i.

Riwayat di atas selaras dengan riwayat yang tercantum dalam buku tafsir Syi’ah yakni Kitab ash-Shafi’ fi Tafsir al-Qur’an dari al-Baqir ‘alaihi as-salam dia berkata, ‘Amir al-Mu’minin (أمير المؤمنين)/pemimpin umat Islam ‘alaihi as-salam menetapkan sanksi bagi pelaku pidana pencurian, jika dia mencuri maka tangan kanannya dipotong, dan jika dia mengulanginya kembali maka kaki kirinya dipotong (min khilaf (من خلاف))/menyilang, dan jika dia mengulanginya lagi, maka dipenjarakan tanpa memotong kaki kirinya untuk dapat dia gunakan berjalan dan buang air kecil, dan tidak pula memotong tangan kirinya agar dapat dia gunakan untuk makan dan membersihkan kotoran sisa buang hajat.’ Dia juga berkata, ‘Aku merasa malu kepada Allah swt, jika aku membiarkannya hidup di luar penjara dan dia tidak memiliki manfaat apa-apa, maka dari itu, aku pun memenjarakannya sampai ajal menjemputnya.’ Dan dia juga berkata, ‘Sungguh Rasulullah saw tidak memotong -tangan atau kaki pencuri- setelah dia memotong tangan -kanan- nya dan kaki -kiri- nya.’ (Lihat, Kitab ash-Shafi’ fi Tafsir al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 316, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Iran. 1419 H).

Sementara itu, ulama mazhab Hanafi dan ulama mazhab Hanbali mengatakan jika tangan kanan dan kaki kiri si pencuri telah dipotong jika ia kembali melakukan pencurian lagi, sudah tidak ada lagi hukum potong atas dirinya. (Lihat, at-Tafsir al-Munir, Jilid: 3, Hlm: 514, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2003). Adapun rincian terkait klasifikasi sanksi potong tangan ini, tidak akan dibahas pada tulisan ini dan Anda bisa merujuk kepada buku-buku fikih kontemporer dan klasik.
 -Allahu A'lam-

Daftar Rujukan:

1. Buku: Tafsir al-Mishbah, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2002.

2. Buku: Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Penulis: Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Penerbit: Dar al-Fikr. Beirut. 1399 H.

3. Buku: fi Zhilal al-Qur’an, Penulis: Sayyid Quthb, Penerbit: Dar asy-Syuruq, Kairo. 2003.

4. Buku: at-Tafsir al-Munir, Penulis: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2003.

5. Buku: Kitab ash-Shafi fi Tafsir al-Qur’an, Penulis: Muhsin al-Faidh al-Kasyani, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Iran. 1419 H.

6. Aplikasi: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Sumber: Play Store.
Web: https://seniorkampus.blogspot.com.

7. Kajian rutin mingguan Tafsir Isyari oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar bertempat di Masjid Bait al-Qur’an, Tangerang Selatan.

(Penulis adalah mahasiswa tingkat 2 fakultas ushuluddin Universitas Al-Azhar)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca