Rabu, 26 Februari 2020

Konseptualisasi Tafsir (2); Primordialisme Al-Kasyani terhadap Konsep Kepemimpinan


Oleh: Fahrurozi Umi

Muhammad bin Murtadha bin Mahmud atau populer dipanggil Muhsin al-Faidh al-Kasyani (محسن الفيض الكاشاني) (1598-1680 M) merupakan cendekiawan, mistikus, pujangga, filosof, pakar hadis Muslim bermazhab Syi’ah itsna ‘asyariyah (اثنا عشرية)/dua belas berkebangsaan Iran. Salah satu master piece nya  yang populer di bidang tafsir adalah Kitab ash-Shafi fi Tafsir al-Qur’an, atau biasa dikenal dengan Tafsir ash-Shafi’. (Lihat, Kitab ash-Shafi fi Tafsir al-Qur’an, Jilid: 1, Hlm: 8, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Iran. 1419 H).

Sama halnya dengan Thabathaba’i, kualitas penafsirannya terhadap ayat al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai seorang Syi’ah. Primordialisme terhadap ajaran-ajaran Syi’ah yang sudah mendarahdaging di dalam dirinya, cenderung menginterpretasikan ayat al-Qur’an secara subjektif.

Syi’ah itsna ‘asyariyah atau Syi’ah imamiyah istna ‘asyariyyah tidak mengakui kepemimpinan tiga Khulafa ar-Rasyidin pertama, yaitu: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Namun mengakui otoritas Ali Karramallahu Wajhah sebagai khalifah/pemimpin sepeninggalnya Rasulullah saw. Dan setelah Ali wafat, mereka hanya mengakui kepemimpinan kesebelas anak dan keturunan Sayyidina Ali. Baik kesebelas imam ini yang populer (masyhur) maupun yang tersamarkan (mastur). Nama-nama imam dua belas secara urut menurut sekte ini adalah:

1. Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)
2. Anaknya, al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib (w. 50 H)
3. Saudaranya, al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 61 H)
4. Anaknya, Ali Zainal Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 94 H)
5. Anaknya, Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 113 H)
6. Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 148 H)
7. Musa al-Kazhim bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w.183 H)
8. Ali ar-Ridha bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 202 H)
9. Muhammad al-Jawwad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 220 H)
10. Ali al-Hadi bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muharnmad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (W. 254 H.)
11. Al-Hasan al-Askari bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w.260 H)
12. Muhammad bin al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Muhammad bin al-Hasan yang menjadi imam ke-12 ini masuk ke salah satu terowongan di kota Samara' (سامراء) dari kata surra man ra'a (سُرّ من رأى)/orang yang melihat akan senang, apakah dia bersembunyi atau menghilang, namun mereka meyakini dia belum meninggal. Menurut anggapan mereka dialah Imam al-Mahdi yang ditunggu-tunggu kedatangannya (al-Muntazhar (المنتظر)). Ketika datang, dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan sebagaimana bumi yang sebelumnya dipenuhi kedurhakaan. (Lihat, Mausu’ah al-Firaq wa al-Madzahib fi al-‘Alam al-Islami, Hlm: 327, Penerbit: al-Majlis al-A’la li asy-Syuun al-Islamiyah. Kairo. 2019).

Seperti yang telah kita ketahui, fanatismenya terhadap konsep kepemimpinan yang diamininya di atas, yakni hanya meyakini keduabelas imam (ahlu bait) di atas sebagai pemimpin mereka hingga kelak datang Imam yang terakhir pada sesaat sebelum terjadinya hari kiamat yatu Imam al-Mahdi al-Muntazhar. Sangat berpengaruh pada konsep penafsiran yang disuguhkan oleh penafsir kenamaan ini, terutama pada QS. An-Nisa’ [4]: 59, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا أَطِيْعُوا الله وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ والرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ واليَوْمِ الآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وأَحْسَنُ تَأْوِيْلاً (59)

“Wahai orang-orang yang beriman ! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).

Al-Kasyani (1598-1680 M) dalam tafsirnya ash-Shafi’ mengartikan lafazh/kata Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ) dengan Khalifah ar-Rasul (خليفة الرسول)/pemegang kekuasaan atau pemimpin setelah Rasul saw yang berpegang teguh pada tuntunan-tuntunan Rasul yang harus diikuti, dan pemimpin yang mereka yakini dan akui setelah sepeninggalnya Rasulullah Raw adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian al-Hasan bin Ali, kemudian al-Husain bin Ali, kemudian Ali bin al-Husain, kemudian Muhammad bin Ali, dan seterusnya dari keduabelas imam yang mereka yakini dan telah disebut di atas. Pendapat al-Kasyani ini bertumpu pada riwayat dari Jabir bin Abdullah Ra. Dia berkata kala ayat ini (QS. An-Nisa’ [4]: 59) turun, aku bertanya kepada Nabi saw: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya (yang disebutkan pada ayat di atas), akan tetapi, siapa yang dimaksud dengan Ulil Amri yang dimana perintah untuk mematuhinya dikaitkan dengan perintah untuk mematuhimu ?” (yakni, kata perintah athi’u (أطيعوا)/patuhilah tidak disebut sebelum kata Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ)). Rasulullah Saw menjawab: “Mereka adalah khalifah-khalifah/pemimpin-pemimpin (penerus) ku wahai Jabir ! dan (mereka juga) adalah pemimpin-pemimpin umat Muslim, yakni Ali bin Abi Thalib, kemudian al-Hasan, kemudian al-Husain, kemudian Ali bin al-Husain, kemudian Muhammad bin Ali, jika kamu menemuinya sampaikan salamku kepadanya. Kemudian ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian al-Hasan bin Ali, kemudian Sumayyi Muhammad bin Kunayyi Hujjatullah fi Ardhihi (otoritas Allah di permukaan bumi ciptaan-Nya) dan selebihnya pada hamba-hamba-Nya. Anak al-Hasan bin Ali shalawatullah ‘alaihim. Dia itulah yang Allah berikan otoritas di bumi ini timur dan barat, para pengikut dan kerabat-kerabatnya tidak sedikit yang tidak menyadari keberadaannya bahkan tidak mengakui kepemimpinannya demikian tidak lain Allah telah menguji keimanan di dalam hatinya.” Jabir bertanya: “Wahai Rasululallah, apakah para pengikutnya dapat mengambil manfaat dari ketidakberadaannya ?,” Rasulullah Saw berkata: “Demi Yang Mengutusku sebagai Nabi (Allah), mereka akan mendapatkan penerangan dari cahayanya (anak al-Hasan), dan dapat memetik manfaat dari kepemimpinannya yang tak nampak, seperti matahari yang tertutup awan, akan tetapi manusia dapat memetik manfaat darinya. Wahai Jabir ! ini merupakan rahasia Tuhan yang terjaga, dan dia merahasiakannya kecuali kepada orang yang terdekat dengan-Nya.”

Adapun alasan (‘illat) -lanjut tulis al-Kasyani- dari perintah pematuhan kepada Rasul-Nya adalah karena dia ma’shum (معصوم)/terjaga dari kesalahan (menurut pandangan Syi’ah. “Sedangkan dalam pandangan Sunni, ma’shum (معصوم) adalah yang terjaga dari dosa.” (Tutur Dr. Ali Jum’ah)) dan jauh dari kemungkinan untuk durhaka kepada Allah. Dan adapun perintah Allah untuk patuh terhadap ketentuan-ketentuan Ulil Amri (ahlu al-bait) (yang sudah pasti sejalan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya) juga dikarenakan dia ma’shum (معصوم)/terjaga dari kesalahan dengan dalih firman-Nya: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait (keluarga dan keturunan Rasulullah saw) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33), maka dari itu, mustahil mereka mengajak kepada kedurhakaan, ini sejalan dengan sabdanya: “Tidak ada ketaatan terhadap seseorang dalam mendurhakai (ma’siat) Allah Yang Maha Suci dan Maha Luhur.” (HR. Ahmad). (Lihat, Kitab ash-Shafi fi Tafsir al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 254-259, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Iran. 1419 H).

Sebagaimana sewajarnya seorang pelajar al-Azhar yang selalu didik oleh guru-gurunya agar selalu menjunjung tinggi amanah ilmiah dalam memaparkan sebuah polemik dan permasalahan; maka dari itu penulis akan memaparkan juga penafsirkan yang dihidangkan oleh penafsir-penafsir kenamaan Sunni tanpa menghukumi apalagi memonopoli kebenaran pendapat mereka; karena pada dasarnya ini adalah sebuah penafsiran yang berpotensi salah dan benar.

Tafsir Eksoterik/berpangkal pada pendekatan linguistik dan pemahaman penafsir (الرأي)

Kata Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ). Dalam Mu’jam Maqayiis al-Lughah kata uli (أوْلِي) adalah bentuk plural dari waliy (ولي) yakni terdiri dari huruf wau (و), lam (ل), ya (ي) yang memiliki makna asal kedekatan (al-Qurb (القرب)). (Lihat, Mu’jam Maqayis al-Lughah, Jilid: 6, Hlm: 141, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. Tanpa tahun). Maka dari itu, jika seseorang disebut wali murid maka dia adalah sosok yang terdekat dengan si murid. Dan seseorang disebut wali Allah, maka dia adalah sosok yang terdekat dengan Allah Swt.

Dalam Tafsir al-Mishbah dituliskan bahwasannya kata waliy (ولي) berarti pemilik atau yang mengurus dan menguasai. Bentuk plural dari kata tersebut menunjukkan bahwa mereka itu banyak, sedang makna dari kata al-amr (الأَمْر) adalah perintah atau urusan. Dengan demikian, uli al-amr adalah orang-orang yang berwewenang mengurus urusan kaum Muslimin. Mereka adalah orang-orang yang diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan. Siapakah mereka? Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para penguasa/pemerintah. Ada juga yang menyatakan bahwa mereka adalah ulama, dan pendapat ketiga menyatakan bahwa mereka adalah yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya.

Perlu dicatat bahwa kata al-amr (الأَمْر) berbentuk makrifat atau difinite. Ini menjadikan banyak ulama membatasi wewenang pemilik kekuasaan itu hanya pada persoalan-persoalan kemasyarakatan, bukan persoalan akidah atau keagamaan murni. Selanjutnya, karena Allah memerintahkan umat Islam taat kepada mereka, maka ini berarti bahwa ketaatan tersebut bersumber dari ajaran agama, karena perintah Allah adalah perintah agama. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 2, Hlm: 484, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2005).

Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M) dalam tafsirnya al-Manar juga menegaskan, bahwasannya bentuk jamak pada kata uli (أوْلِي) dipahami dalam arti mereka adalah kelompok tertentu, yakni satu badan atau lembaga yang berwewenang menetapkan dan membatalkan sesuatu misalnya dalam hal pengangkatan kepala negara, pembentukan undang-undang dan hukum, atau yang dinamai ahlu al-halli wa al-‘aqd (أهل الحل والعقد). Mereka terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat, para ulama, petani, buruh, wartawan, dan kalangan profesi lainnya serta angkatan bersenjata. (Lihat, Tafsir al-Manar, Jilid: 5, Hlm: 196, Penerbit: al-Maktabah at-Taufiqiyah. Kairo. Tanpa tahun).

Penafsiran Rasyid Ridha (1865-1935 M) di atas senada dengan penafsiran yang diuraikan oleh Fakhruddin ar-Razi (1149-1210 M) dalam tafsirnya al-Kabir, bahwasannya yang dimaksud dengan Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ) di sini adalah konsensus/kesepakatan (ijma’) yang harus terbebas dari kesalahan (ma’shum), disyaratkan sebuah kesepakatan “terbebas dari kesalahan”; karena bagaimana mungkin dua hal yang saling bertabrakan dapat bertemu ?, dalam artian, di satu sisi Allah memerintahkan untuk mematuhi sebuah kesepakatan yang salah, dan di sisi lain juga Allah Swt melarangnya, ini dua hal yang kontradiktif dan mustahil dapat dipertemukan. Maka dari itu, kesepakatan yang harus dipatuhi itu disyaratkan terbebas dari kesalahan (ma’shum). tidak hanya kesepakatannya saja, akan tetapi orang-orang yang merumuskan atau yang melakukan konsensus juga harus terbebas dari kesalahan (ma’shum), berhubung pada zaman ini (yakni pada masa ar-Razi) sukar sekali menemukan orang-orang semacam itu, maka dari itu dirumuskanlah lembaga/kelompok ahlu al-halli wa al-‘aqd (أهل الحل والعقد)/sekumpulan pakar yang mempunyai tugas menetapkan aturan atau membatalkannya, seperti yang telah disebut di atas pada penafsiran Rasyid Ridha. (Lihat, at-Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghaib, Jilid: 5, Hlm: 359-360, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2012)

Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi (1928-2010 M) -Grand Syekh al-Azhar ke 49 dan mufti Mesir- ini mengartikan kata Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ) pada ayat di atas dengan al-Hukkam (الحكام)/hakim-hakim yang adil, dan mematuhi ketetapan-ketetapannya tentu saja dalam konteks tidak pada kedurhakaan kepada Allah swt; dan juga dikarenakan mereka sebagai sosok pembawa panji-panji syariat serta memegang kendali penuh atas kemaslahatan umat. Dan berpaling dari mereka sama dengan menjerumuskan diri kepada ketersesatan dan kerusakan. (Lihat, at-Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Jilid: 3, Hlm: 191, Penerbit: Nahdhah Mishr. Kairo. 1997).

Imam asy-Syaukani (1754-1834 M) -penafsir kenamaan bermazhab Syi’ah Zaidiyah dan penulis tafsir Fath al-Qadir- ini memberikan pandangan objektif dalam mengartikan kata Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ) tulisnya, Ulil Amri (أوْلِي الأَمْرِ) adalah para imam (baca: pemimpin), para sultan, para hakim dan setiap orang yang mempunyai kekuasaan secara syar'i, bukan yang mengikuti thaghut. Dalam artian, menaati mereka dengan melaksanakan apa yang mereka perintahkan dan menjauhi apa yang mereka larang selama itu bukan kemaksiatan, karena tidak boleh menaati makhluk dalam bermaksiat terhadap Allah, hal ini sebagaimana ditegaskan oleh riwayat valid dari Rasulullah Saw. (Lihat, Tafsir Fath al-Qadir, Jilid: 2, Hlm: 904, Penerbit: Pustaka Azzam. Jakarta. 2008).

Sedang, sementara pakar memahami ayat di atas dengan dalil-dalil hukum syariat yaitu athi’ullah (أطيعوا الله)/taatilah Allah yakni al-Qur’an, dan athi’urrasul (أطيعوا الرسول)/taatilah Rasul yakni Sunah/Hadis, dan ulil amri (أوْلِي الأَمْرِ) yakni ijtihad atau usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ahli yang konpeten dalam bidang ilmu Agama untuk mencapai suatu putusan/simpulan hukum syarak mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera di dalam al-Qur’an dan Sunah. Kemudian (فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ والرَّسُولِ)/jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), ini sebagai isyarat akan analogi (Qiyas). (Lihat: at-Tafsir al-Munir, Jilid: 3, Hlm: 144, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2009)

Tafsir berlandaskan periwayatan (المأثور)

Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari (839-923 M) mencantumkan dalam tafsirnya Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an banyak sekali riwayat mengenai tafsiran dari penggalan ayat وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.”  Antara lain:

1. Abu as-Sa'ib Salim bin Junadah menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami dari al-A'masy, dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah, tentang ayat, وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.” ia berkata, "Mereka adalah para pemimpin.”

2. Al-Hasan bin ash-Shabah al-Bazzar menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, ia berkata: Ya'la bin Muslim mengabarkan kepadaku dari Sa'id bin Jabir, dari Ibnu Abbas, ia berbicara tentang ayat, وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.” bahwa ayat ini diturunkan kepada seorang laki-laki yang diutus oleh Nabi pada sebuah pasukan.

3. Yunus menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Zaid berbicara tentang ayat, وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.” Ia berkata: Bapakku berkata “Mereka adalah para penguasa.”

4. Sufyan bin Waki' menceritakan kepadaku, ia berkata: Bapakku menceritakan kepadaku dari Ali bin Shalih, dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Jabir bin Nuh menceritakan kepada kami dari al-A'masy, dari Mujahid, tentang firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.” ia berkata, "Maksudnya adalah orang-orang dari kalangan ahli fikih di antara kalian."

5. Muhammad bin Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami dari Isa, dari Ibnu Abi Najih, tentang ayat, وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.” ia berkata: "Maksudnya adalah orang-orang yang mengerti agama dan logika."

6. Ahmad bin Hazim menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Hushain, dari Mujahid, mengenai ayat, وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.” ia berkata, "Maksudnya adalah ahli ilmu pengetahuan."

7. Ya'qub menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Ulayyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Najih menceritakan kepada kami dari Mujahid, tentang ayat, وأوْلِي الأَمْرِ منْكُمْ “dan Ulil Amri di antara kamu.”  ia berkata: Mujahid berkata, "Mereka adalah para satrabat Nabi.” (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 7, Hlm: 256-258, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2010).

Daftar rujukan:

1. Buku: Ash-Shafi fi Tafsir al-Qur’an, Penulis: Muhsin al-Faidh al-Kasyani, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Iran. 1419 H.

2. Buku: Mausu’ah al-Firaq wa al-Madzahib fi al-‘Alam al-Islami, Penulis: Himpunan cendikiawan Muslim, Pembimbing: Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Penerbit: al-Majlis al-A’la li asy-Syuun al-Islamiyah. Kairo. 2019.

3. Buku: Mu’jam Maqayis al-Lughah, Penulis: Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakaria, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. Tanpa tahun.

4. Buku: Tafsir al-Mishbah, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2005.

5. Buku: Tafsir al-Manar, Penulis: Muhammad Rasyid Ridha, Penerbit: al-Maktabah at-Taufiqiyah. Kairo. Tanpa tahun

6. Buku: at-Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghaib, Penulis: Fakhruddin ar-Razi, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2012.

7. Buku: at-Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Penulis: Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi, Penerbit: Nahdhah Mishr. Kairo. 1997.

8. Buku: Tafsir Fath al-Qadir, Penulis: asy-Syaukani, Penerbit: Pustaka Azzam. Jakarta. 2008.

9. Buku: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Penulis: Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2010.

10. Buku: at-Tafsir al-Munir, Penulis: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2009.

*Penulis adalah mahasiswa tingkat 2 fakultas ushuluddin Universitas Al-Azhar

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca