Minggu, 09 Februari 2020

Deradikalisasi Penafsiran QS. Al-Maaidah [5]: 44


Oleh: Fahrurozi Umi

Republik Indonesia (RI) atau Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), atau lebih umum disebut Indonesia. Sistem dan bentuk dari negara Indonesia adalah negara kesatuan, yakni negara berdaulat yang diselengarakan sebagai satu kesatuan tunggal, di mana pemerintah pusat adalah yang tertinggi. Dan bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik (sebuah negara di mana tumpuk pemerintahan akhirnya bercabang dari rakyat, bukan dari prinsip keturunan bangsawan) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Presiden. Indonesia memiliki Semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda namun tetap satu); karena dia merupakan negara yang majemuk dan plural. Dan Indonesia menganut ideologi Pancasila yang telah disepakati oleh orang-orang terdahulu yang terdiri dari orang yang beragama Islam dan non Islam (Lihat, www.wikipedia.com). Hemat penulis, Indonesia merupakan representasi dari negara yang majemuk, terdiri dari banyak etnis dan umat beragama, bukan negara yang menganut sistem perkhilafahan atau biasa disebut Negara Islam, karena hukum-hukum yang terdapat di dalamnya merupakan buah dari rumusan yang disepakati oleh banyak orang dari berbagai etnis, dalam artian hukum manusia.

Revitalisasi konsep khilafah (baca: berhukum dengan hukum Tuhan (Syariat)) di Indonesia bahkan di negara lain diawali oleh Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 M) dengan ide besarnya: Pan Islamisme, lalu muncul di Mesir gerakan yang didirikan oleh Hasan al-Banna (1906-1949 M) yaitu Ikhwan al-Muslimin di tahun 1918 M. Al-Maududi (1903-1979 M) di Pakistan juga turut ikut memberikan gagasan tentang negara Islam. Di Jordan ada an-Nabhani (1914-1977 M) yang mendirikan Hizbut Tahrir dengan angan-angan ingin mendirikan khilafah.

Di Indonesia, tercatat ada pemberontakan Karto Suwiryo dengan angan-angan pendirian Dar al-Islam (DI), atau yang familiar disebut dengan NII.

Di masa modern ini, muncul ISIS di Irak dan Syam. Yang rajin mengekspor ide dan gagasan mendirikan Negara Islam.

Yang uniknya dari mereka yaitu tidak terjalin korelasi (baca: kerja sama dan kesepakatan) antara satu dengan yang lainnya, sebutlah misalnya ketika ISIS memproklamasikan negara yang mereka klaim sebagai negara Islam, ternyata jaringan HTI tidak mengakuinya, dan begitupun sebaliknya. (lihat, Negara Islam Dilema dan Pro Kontra, Hal: 8-9, Penerbit: Rumah Fikih Indonesia, Jakarta. 2017).

Pemikiran utama yang menjadi landasan semua konsep kelompok-kelompok Islam Radikal adalah konsep Hakimiyah. Dari konsep hakimiyah ini lahir konsep syirik hakimiyah dan tauhid hakimiyah dari Sayyid Quthb (1906-1966 M) dan saudaranya Muhammad Quthb (1919-2014 M).

Konsep ini juga melahirkan bahwa umat Islam selain mereka adalah orang-orang jahiliah, perasaan akan adanya jurang pemisah dengan umat Islam lainnya. Demikian juga konsep itu melahirkan pemikiran kiniscayaan benturan antara mereka dengan umat Islam lainnya demi tegaknya khilafah. Konsep seperti itu menjadi sebuah virus bagi seorang yang memegang teguh ajaran agama sehingga mereka gemar mengafirkan orang lain yang tidak sepaham dengannya. Yang menjadi dalih mereka pada konsep hakimiyah dan takfiri ini yaitu firman-Nya: وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ الله فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ “Barang siapa yang yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maaidah [5]: 44). (lihat, Islam Radikal Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwan al-Muslimin hingga ISIS, Hlm: 12/14, Penerbit: Dar al-Faqih, Abu Dhabi. 2016).

Mereka juga menjadikan ayat 44 surat al-Maaidah di atas sebagai dalih mengafirkan orang lain bahkan sesama umat Muslim; karena Sayyid Quthb (1906-1966 M) dalam tafsirnya fi Zhilal al-Qur’an memahami penggalan ayat di atas sebagai pembeda antara orang Muslim dan orang kafir. Dikatakan beriman seseorang kepada Allah swt jika dia tunduk dan patuh (Islam/istislam) atas ketetapan-ketetapan Tuhan (baca: hukum syariat), dan jika seseorang yang tidak mengindahkan ketetapan yang telah Allah tetapkan, maka dia dinilai kafir (baca: keluar dari Agama). (Lihat, Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 889, Penerbit: Dar asy-Syuruq, Kairo. 2003).

Pemahaman tersebut muncul dikarenakan mereka memahami al-Qur’an hanya sebatas memperhatikan teks tanpa menghiaraukan konteksnya, jika mereka ataupun kita memahami ayat 44 surat al-Maaidah itu secara tekstual, maka pemahaman yang hadir pada benak kita adalah ‘barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Tuhan (baca: syariat Islam) maka dia diklaim kafir (baca: keluar dari Agama),’ dan ini berkonsekuensi terjadinya pembunuhan bahkan peperangan antar umat beragama, dengan dalih surah At-Taubah ayat 29, firman-Nya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah dikaramkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (yaitu orang-orang) yang diberikan kepada mereka al-Kitab sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” Jika seseorang telah diklaim kafir maka halal darahnya (untuk dibunuh). Ini adalah buah dari pemikiran yang sangat statis, terlebih dalam menginterpretasikan al-Qur’an, dan agaknya terasa miskin jika memahami atau menginterpretsikan al-Qur’an dengan tekstual.

Pada tulisan ini, penulis hendak menguraikan beberapa interpretasi yang diutarakan oleh para penafsir kenamaan guna memperjelas maksud yang terkandung dalam ayat yang mereka jadikan dalih guna meluruskan konsep berfikir mereka (kelompok radikal), sekaligus meruntuhkan argumentasi mereka.

Firman Allah swt:

 وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ الله فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (المائدة: 44)

“Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”

Muhammad Sayyid Tanthawi (1928-2010 M) –Grand Syekh al-Azhar ke 47 dan Mufti Mesir- ini menuliskan beberapa pendapat mengenai maksud dari firman Allah swt: “Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Ini dipahami dalam arti kecaman yang amat keras terhadap mereka yang menetapkan hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Akan tetapi mayoritas ulama, seperti yang dikemukakan mantan Mufti Mesir, dan Pemimpin Tertinggi al-Azhar, dalam tafsirnya, adalah bagi yang melecehkan hukum Allah dan yang mengingkarinya.

Demikian juga pendapat sahabat Nabi Saw Ibnu Abbas, memang satu kekufuran dapat berbeda dengan kekufuran yang lain, demikian juga kefasikan dan kezaliman dapat berbeda satu dengan yang lain. Kufur seorang Muslim, kezalimannya, dan kefasikannya tidak sama dengan kekufuran, kezaliman, dan kefasikan non-Muslim. Kekufuran seorang Muslim bisa diartikan pengingkaran nikmat. Demikian pendapat Atha –salah seorang ulama yang hidup pada masa sahabat Nabi Saw-. maka dari itu kita tidak bisa mengkafirkan sesama Muslim.

Syekh Hasanain Muhammad Makhluf (1890 M) yang juga pernah menjabat sebagai Mufti Mesir mengomentari pengalan ayat di atas. Beliau mengemukakan bahwa pakar-pakar tafsir berbeda pendapat menyangkut ayat ini dan kedua ayat serupa dengan setelahnya. Ayat pertama (ayat 44) ditujukan kepada orang-orang Muslim, yang kedua (ayat 45) ditujukan kepada orang-orang Yahudi, dan ayat ketiga (ayat 47) kepada orang-orang Nasrani. Selanjutnya dia menyebutkan bahwa sifat kafir bila disandangkan kepada orang yang beriman, maka ia dipahami dalam arti kecaman yang sangat keras, bukan dalam arti kekufuran yang menjadikan seorang keluar dari agama. (lihat, at-Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Jilid: 4, Hal: 168-169, Penerbit: Nahdhah Mishr. Kairo. 1997).

Fakhruddin ar-Razi (1149-1210 M) –Filosof dan pakar tafsir Kenamaan- menuliskan dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib beberapa pendapat yang menerangkan maksud firman Allah swt: “Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Antara lain:

1) Maksud dari penggalan ayat di atas adalah ancaman yang ditujukan kepada umat Yahudi atas perbuatan mereka yakni mengubah ketetapan (baca: hukum) Allah terhadap Hadd (الحدّ)/ketetapan yang dijatuhkan kepada pezina yang telah menikah; mereka mengingkari ketetapan atau hukum Allah yang sudah jelas tertera di dalam Taurat, dengan berujar: ”ketetapan itu tidak wajib untuk dilaksanakan”. Maka –lanjut tulis ar-Razi- mereka layak disebut sebagai orang kafir, dan mereka tidak layak menyandang kata ”iman”, dalam arti mereka tidak beriman kepada Musa dan Taurat dan tidak juga kepada Muhammad dan al-Qur’an.

2) Kelompok al-Khawarij (الخوارج)–yang populer dengan panjinya (لا حكم إلا الله) “tiada hukum (yang patut untuk ditegakkan) melainkan (hukum/ketetapan) Allah” dan juga sangat ringan dalam mengucapkan kalimat kafir- mereka berpendapat: semua yang bermaksiat kepada Allah maka dia telah kafir (keluar dari agama). Dan dengan tidak menegakkan ketetapan Allah swt yang jelas tertera di dalam teks-teks keagamaan maka dia dinilai bermaksiat dan keluar dari Agama.

Dan kelompok Khawarij -lanjut tulis ar-Razi- menjadikan penggalan ayat di atas sebagai dalih konsep berpikir mereka, dan berkata: “Sesungguhnya penggalan ayat ini mengatakan bahwa siapa saja yang berhukum bukan dengan hukum yang telah Allah turunkan maka dia telah kafir (baca: keluar dari Agama), dan siapa saja yang melakukan perbuatan dosa, dan kemudian dia dijatuhi hukuman dengan hukum selain hukum Allah, maka dia -juga- telah menjadi kafir (baca: keluar dari Agama).”

Akan tetapi para pakar Teologi dan Tafsir al-Qur’an menjawab dua pendapat di atas sebagai berikut:

A). Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk umat Yahudi dan hukumnya pun diberlakukan untuk mereka. Sebahagian menilai ini pendapat yang lemah; karena, mengambil ‘ibrah (عبرة)/pemahaman dan maksud pada sebuah ayat, bukan terkhusus dengan latar belakang diturunkannya ayat tersebut, akan tetapi dengan keumuman lafaz pada ayat tersebut.

B). Siapa saja yang berhukum bukan dengan hukum yang telah Allah turunkan/tetapkan maka dia telah kafir. Ini pun tidak dapat diterima; karena pertama: Atha pernah berkata: “kufur seorang Muslim bukan seperti kufur seorang non Muslim” –seperti yang telah diungkapkan di atas-. Dan Thawus juga berkata: “kufur yang dimaksud di sini bukan kufur yang menyebabkan keluar dari Agama seperti yang kufur kepada Allah dan Hari Kemudian, tapi yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kufur nikmat bukan kufur yang menyebabkan keluar dari Agama”. Akan tetapi pendapat ini lemah; karena jika kata “kufur” tidak terikat dengan sesuatu (muqayyad) atau selama dia bersifat umum (‘am), maka yang dimaksud dengannya ialah kufur yang menyebabkan seseorang keluar dari agama. Ibnu al-Amba’ri juga pernah berkata: boleh kita maknai penggalan ayat ini dengan “barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan, maka dia telah “menyerupai” perbuatan orang-orang kafir, dan ketika itu juga, mereka juga menyerupai kufurnya orang-orang kafir. Ini juga pendapat yang lemah; karena terlepas dari zhahir (ظاهر) ayat -yang di dalamnya tidak tertera sebuah diksi yang memberikan kesan penyerupaan (tasybih)-.”

Abd al-Aziz Ibn Yahya al-Kanani berpendapat: yang dimaksud dengan penggalan ayat “Dengan apa yang telah Allah turunkan.” Menunjukkan keumuman. Maka firman Tuhan: “Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Maknanya: barang siapa yang mendatangkan ketetapan hukum yang “bertentangan” dengan hukum yang telah Allah turunkan maka dia termasuk orang-orang yang kafir; ini benar –menurut ar-Razi- karena orang-orang kafir mereka mendatangkan ketetapan (hukum) yang bertentangan dengan hukum Allah, sama halnya dengan orang Yahudi –seperti yang telah disebutkan di atas- mereka mengingkari hukum rajam bagi pezina yang telah menikah yang di mana jelas tertera di dalam Taurat, dan mereka layak menyandang kata kafir. (lihat, at-Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghaib, Jilid: 6, Hal: 223-224, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2012).

Al-Qurthubi –pakar tafsir dan hadits kenamaan, dan biasa dijuluki Imam Para Mufassir (إمام المفسرين)- menuliskan sebuah pendapat di dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an bahwa yang dimaksud dari penggalan ayat “Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Diturunkan mengenai orang-orang kafir. Hal ini ditetapkan dalam Shahih Muslim dari al-Barra’. Berdasarkan kepada hal ini, seorang mukmin tidak menjadi kafir (baca: keluar dari Agama) meskipun melakukan dosa besar. Dari sini juga runtuhlah pendapat golongan kanan yang mengklaim selain dari pada golongan mereka adalah kafir.

Menurut satu pendapat –lanjut tulis al-Qurthubi- maksud dari penggalan ayat tersebut adalah: barang siapa yang tidak memutuskan (baca: menghukumi) menurut semua yang Allah turunkan, maka dia adalah orang yang kafir. Adapun orang yang meyakini dan menetapkan bahwa Allah itu Esa, namun tidak berhukum pada sebagian syariat, maka dia tidak termasuk ke dalam ayat ini. (Lihat, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid: 6, Hal: 456-457, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2006).

Imam asy-Syaukani (1758-1834) –Penafsir Kenamaan Syi’ah- menuliskan beberapa pendapat mengenai maksud dari ayat “Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Dan hemat penulis, pendapat yang mencakup semua pendapat di dalam kitab yang dia karang adalah: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, ath-Thabrani, abu asy-Syaikh, dan Ibnu Mardawih meriwayatkan darinya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat: “Barang siapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Dan ayat –yang akhirannya-: ”Orang-orang yang fasik.” Dan ayat –yang akhirannya-: “Orang-orang yang zalim.”, Allah menurunkannya berkenaan dengan dua golongan Yahudi, yang salah satunya menindas yang lain pada masa jahiliyyah, sampai pada akhirnya mereka berdamai dengan kesepakatan bahwa setiap korban dari golongan rendah yang dibunuh oleh golongan terhormat, diyat-nya adalah lima puluh wasaq, dan setiap korban dari golongan terhormat yang dibunuh oleh golongan rendah, diyat-nya adalah seratus wasaq. (Lihat, Tafsir Fath al-Qadir, Jilid: 3, Hal: 387, Penerbit: Pustaka Azzam. Jakarta. 2008).

Dari interpretasi-interpretasi yang penulis hidangkan di atas yang memuat penafsiran dari kalangan sunni  dan syi’ah, dapatlah disimpulkan bahwasannya sedikit keliru kelompok yang memahami ayat al-Qur’an secara tekstual; karena mereka tidak akan memahami hakikat makna yang hendak disampaikan pada sebuah ayat. Pada tulisan yang lalu penulis pernah menyampaikan bahwa pada dasarnya sebuah penafsiran itu bersifat kemungkinan (baca: berpotensi salah dan benar) jika penafsiran ini bertumpu pada tolok-ukur dan kaidah yang benar, yakni dengan memperhatikan teks dan konteks ayat. Maka dari itu, penulis tidak sepakat atas pendekatan dan metode Sayyid Quthb dalam memberikan interpretasi pada penggalan ayat 44 surah al-Maaidah di atas yang bersifat tekstual, dan lebih dari pada itu, buah dari pada pemikiran yang keliru itu adalah pertumpahan darah yang teramat tidak diamini oleh ajaran Islam yang ramah, toleran dan moderat. –Allah A’lam-.

Daftar rujukan:

1. Buku: Negara Islam Dilema dan Pro Kontra, Penulis: Ahmad Sarwat, Lc.,MA, Penerbit: Rumah Fikih Indonesia. Jakarta. 2017.

2. Buku: Islam Radikal Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwan al-Muslimin hingga ISIS, Penulis: Dr. Usamah Sayyid al-Azhary, Penerbit: Dar al-Faqih. Kairo. 2016.

3. Buku: at-Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Penulis: Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi, Penerbit: Nahdhah Mishr. Kairo. 1997.

4. Buku: at-Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghaib, Karya: Fakhruddin ar-Razi, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2012.

5. Buku: al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Penulis: Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakr al-Anshari al-Qurthubi, Penerbit: Dar al-Hadits. 2006.

6. Buku: Tafsir Fath al-Qadir, Penulis: Muhammad bin Ali asy-Syaukani, Penerbit: Pustaka Azzam. Jakarta. 2008.

7. www.wikipedia.com.

(Penulis adalah Mahasiswa Tingkat 2 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca