Minggu, 26 Januari 2020

Konseptualisasi Tafsir; Thabathaba'i sebagai sosok Revisionis



Oleh: Fahrurozi Umi

Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i (سيد محمد حسين الطباطبائي) (w. 1402 h) adalah cendekiawan, pujangga, pakar hadis, sejarawan, penafsir, filsuf Muslim bermazhab Syi’ah abad 20 berkebangsaan Iran (www.wikipedia.com). Dia memiliki master piece yang sudah tidak asing lagi di kalangan cendikiawan Muslim Sunni maupun Syi’ah yaitu al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an atau populer disebut Tafsir al-Mizan.

Pada dasarnya, seorang penafsir dengan latar belakang dan kecenderungannya terhadap suatu ajaran dan budaya akan mempengaruhi kualitas penafsiran terhadap suatu kata, penulis sebut saja secara eksplisit penafsiran sebahagian kelompok Syi’ah yang terlalu mengeksploitasi makna kata benda (Ism ‘Alam) dalam al-Qur’an, sebagai contoh: kata Fir’aun (فرعون) pada surah al-Baqarah ayat 49 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir’aun dan pengikut-pengikut Fir’aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 49) mereka enggan memahami sosok Fir’aun pada ayat di atas dengan Fir’aun yang menjadi rival nabi Musa as pada zamannya, akan tetapi mereka menujukan kepada Yazid bin Mu’awiyah; karena dia memiliki andil dan otoritas pada peristiwa pemenggalan Husain bin Ali dan peracunan Hasan bin Ali, tapi dia membiarkan hidup anak perempuan Nabi saw yaitu Fatimah, dan peristiwa ini selaras dengan redaksi ayat di atas. (dikutip dari kajian rutin mingguan Tafsir Isyari yang bertempat di Pusat Studi al-Qur’an, oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar).

Terlepas dari sah atau tidaknya penafsiran di atas, yang hendak penulis sampaikan di sini, penafsiran seseorang akan dipengaruhi latar belakang dan budaya setempatnya.

Thabathaba’i merupakan cendekiawan Syi’ah Itsna’ Asy’ariyah/dua belas yang masih memegang erat tradisi Islam dan syariat nikah mut’ah /kawin kontrak -yang di mana tradisi itu masih dirawat oleh kelompok Syi’ah hingga kini- dengan merujuk pada ayat al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 24:

والمحصنات من النساء الا ماملكت أيمانكم كتاب الله عليكم وأحل لكم ماوراء ذلكم ان تبتغوا بأموالكم محصنين غير مسافحين فماستمتعتم به منهن فأتوهن أجورهن فريضة ولا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعد الفريضة إن الله كان عليما حكيما (24)

“Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki, sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. Dan istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah imbalannya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 24).

Penggalan ayat فَمَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَأَتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنّ فَرِيْضَةً “Dan istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah imbalannya kepada mereka sebagai suatu kewajiban” dijadikan dalih oleh Thabathaba’i sebagai kontinuitas tradisi kawin kontrak sejak zaman Nabi saw hingga sekarang. Thabathaba’i dalam tafsirnya al-Mizan menguraikan sebuah konsep penafsiran mengenai penggalan ayat di atas bahwasannya, yang dimaksud dengan kata istamta’tum (اسْتَمْتَعْتُمْ)/yang telah kamu nikmati adalah nikah mut’ah yaitu akad nikah untuk masa tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu, pendapat ini dikuatkan dengan qira’at (قراءة)/bacaan beberapa sahabat Nabi saw, seperti Ubay bin Ka’ab dan Ibn Abbas yang menambahkan kalimat ila’ ajalin musamma (إلى أجل مسمى)/sampai waktu tertentu setelah kalimat (اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ). Qira’at (قراءة)/bacaan ini dikenal dengan bacaan mudraj (مدرج)/sisipan dalam arti kalimat itu yakni ila’ ajalin musamma (إلى أجل مسمى)/sampai waktu tertentu bukan kalimat asli, akan tetapi hanya penjelasan makna. Dan juga -lanjut tulis Thabathaba’i- karena ayat ini berbicara mengenai nikah mut’ah, maka maskawinnya dinamai dengan ujur (أجور)/upah-upah yang merupakan bentuk plural dari ajr (أجر)/upah bukan shidaq (صداق)/maskawin ataupun mahr (مهر)/mahar, akan tetapi, argumentasinya yang cukup logis dapat dipatahkan dengan mudah melalui ayat 27 surah al-Qashash yang menceriterakan perkawinan putri nabi Syu’aib as dan nabi Musa as yang maskawinnya pun dinamai ajr (أجر)/upah, sedangkan pernikahan mereka bukanlah mut’ah.

Thabathaba’i juga memaparkan lebih lanjut mengenai penafsiran potongan ayat di atas, bahwasannya kata istamta’tum (اسْتَمْتَعْتُمْ)/yang telah kamu nikmati atau istimta’ (استمتاع) merupakan turunan kata dari mata’a-yamta’u (متع-يمتع) atau mut’ah (متعة). Istilah mut’ah dan pengaplikasiannya pun cukup populer di kalangan sahabat-sahabat Nabi saw. Dan istilah itu tidak dapat dipahami dalam pengertian kebahasaan, sebagaimana kata haji, riba atau ghanimah, tidak dapat dipahami dalam arti kebahasaan karena istilah keagamaan harus dijadikan dasar dalam memahami teks-teks keagamaan terlebih di dalam al-Qur’an, kecuali jika ada indikator yang kuat yang mengharuskan memahaminya dalam pengertian kebahasaan. (Lihat, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, Jilid: 4, Hlm: 271-273, Penerbit: al-Hauzah al-Ilmiyah, Iran. Tanpa tahun)

Argumentasi Thabathaba’i di atas selaras dengan Kaidah Berpikir atau Ilmu Mantik pada pembahasan al-Mufrad (المفرد), di sana diuraikan bahwasannya pada suatu kata, terdapat peralihan makna dari satu (baca: makna kebahasaan/etimologi) ke yang lain (منقول), terdapat tiga bagian:

1. Al-Manqul asy-Syar’i (المنقول الشرعي)/syariat yaitu peralihan makna melalui indikator syariat/tuntunan Agama. Seperti, kata Shalat (الصلاة) yang menurut kebahasaan bermakna ad-Du’a (الدعاء)/doa atau panggilan, kemudian beralih maknanya menjadi perkataan dan perbuatan tertentu, dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam. Jika suatu kata memiliki dua makna, yang pertama makna etimologi dan kedua makna syariat, maka yang digunakan adalah makna syariat.

2. Al-Manqul al-Ishthilahi (المنقول الاصطلاحي)/terminologi yaitu peralihan makna melalui indikator definisi yang dirumuskan oleh para pakar pada bidang tertentu. Seperti: kata fa’il (فاعل) yang secara etimologis bermakna yang bertindak, kemudian terjadi peralihan makna sebagaimana dirumuskan oleh para pakar Ilmu Nahwu menjadi yang bertindak, yang mengerjakan suatu pekerjaan, atau yang menjadi sasaran dalam penyifatan suatu pekerjaan. Dan yang digunakan dalam literatur Nahwu adalah makna terminologi.

3. Al-Manqul al-‘Urfi (المنقول العرفي)/tradisi yakni peralihan makna melalui indikator tradisi dan kebiasaan. Seperti, kata ad-Dabah (الدابة) yang menurut kebahasaan bermakna semua yang berjalan di atas permukaan bumi, kemudian terjadi pralihan makna karena kebiasaan orang Arab memahami kata dabah dengan hewan berkaki empat. Akan tetapi yang digunakan adalah makna kebiasaan. (Lihat, Muqaddimah li Kitab Syarh al-Khabishi ‘ala Matn Tahdzib al-Mantiq, Hlm: 57, Penerbit: Maktabah al-Iman. Kairo. 2005).

Begitupun argumentasi Thabathaba’i yang mengacu pada kaidah di atas, bahwasannya kata istimta’ (استمتاع) memiliki makna kebahasaan yakni kenikmatan atau kesenangan, kemudian beralih maknanya melalui indikator syariat menjadi nikah mut’ah/kawin kontrak atau akad nikah untuk masa tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu. Dan yang digunakan untuk memahami teks-teks keagamaan seperti al-Qur’an adalah makna yang sudah dirumuskan langsung oleh syariat. Bukan hanya nikah mut’ah akan tetapi tradisi-tradisi keagamaan yang lain pun sedemikian halnya, seperti salat, yang diperintahkan Allah dengan diksi أقيموا الصلاة “kerjakanlah salat”. Salat yang diperintahkan pada penggalan ayat di atas tidak dipahami dengan makna etimologinya yaitu doa, tapi makna yang sudah ditentukan oleh syariat yaitu perkataan dan perbuatan tertentu, dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam.

Lantas apakah penafsiran yang dihidangkan oleh Thabathaba’i yang cukup rasional dan sejalan dengan kaidah ini yang paling benar? Tentu saja tidak; karena pada prinsipnya, buah dari penafsiran itu bersifat kemungkinan, dalam arti, boleh jadi benar dan boleh jadi juga keliru (jika enggan menyebutnya salah). Para pakar berbeda metode dan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur’an, ada yang menggunakan pendekatan esoterik/emosional-spiritual, dan ada juga yang menggunakan metode eksoterik/linguistik (akan dibahas rinciannya pada artikel mendatang). Dan dari pendekatan-pendekatan itu akan membuahkan hasil yang berbeda pula. Juga tidak lupa, seperti yang telah disinggung di atas bahwasannya penafsiran Thabathaba’i juga dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai seorang cendekiawan bermazhab Syi’ah.

Guna menampik anggapan dari para pembaca bahwa penulis seorang penganut mazhab Syi’ah, layaknya Prof. Dr. Quraish Shihab yang sempat dituding sebagai seorang Syi’ah. Penulis juga akan menyematkan beberapa penafsiran dari cendekiawan-cendekiawan Sunni.

Al-Qurthubi (w. 1273 m) dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an  berpendapat bahwasannya maksud dari kata istimta’ (استمتاع) adalah berlezat-lezat dalam hubungan seksual dan kata ujur (أجور)/upah-upah adalah mahar. Dan mahar disebut juga upah; karena pemberian itu merupakan upah atas kenikmatan yang didapat dari hubungan badan yang dilakukannya dengan istri sahnya melalui perantara pernikahan seperti biasanya (baca: bukan kawin kontrak). (Lihat, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid: , Hlm: 300, Cet: Dar al-Hadits. Kairo. 2006). karena pada dasarnya praktik nikah mut’ah menurut kalangan Sunni sudah dibatalkan secara mutlak langsung oleh Rasulullah Saw pada haji Wada’. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 2, Hlm: 405, Cet: Lentera Hati. Tangerang. 2005).

Adapun mufti Tunis Muhammad Thahir Ibn Asyur (w. 1973 m) dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir menyimpulkan bahwasannya Rasulullah mengizinkan praktik nikah mut’ah dua kali dan melarangnya dua kali. Dan larangan itu bukan sebuah pembatalan, akan tetapi sebuah bentuk penyesuaian kondisi, kebutuhan yang mendesak dan darurat, ini dibuktikan dengan pembolehan praktik nikah mut’ah pada pasa khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq dan khalifah kedua Umar bin al-Khaththab. Pada akhir masa pemerintahan khalifah Umar inilah dilarang praktik nikah mut’ah untuk selamanya. Akhirnya Ibn Asyur yang bermazhab Sunni Maliki itu menyimpulkan bahwasannya nikah mut’ah diperbolehkan hanya dalam keadaan darurat dan mendesak, seperti bagi yang sedang dalam perjalanan jauh atau berperang dan tidak membawa istri. Harus pula diingat bahwa untuk sahnya nikah mut’ah diperlukan syarat-syarat, sebagaiman syarat-syarat pernikahan biasa, yakni wali, saksi, dan maskawin, serta anak yang lahir adalah anak-anak sah. Kendati demikian, iddah wanita itu cukup sekali haid dan kedua pasangan tidak saling mewarisi apabila salah seorang meninggal pada masa pernikahan. (Lihat, Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Jilid: 2, Hlm: 432, Cet: Dar Suhnun. Tunis. Tanpa tahun).

Dalam Tafsir al-Munir karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili disebutkan satu pendapat yaitu al-Hasan, Mujahid dan lainnya mengatakan bahwa makna ayat ini adalah kalian wajib menunaikan mahar perempuan yang telah kalian rasakan kemanfaatan dan kenikmatannya melalui persetubuhan dengan cara pernikahan yang benar. Oleh sebab itu, apabila seseorang telah menyetubuhi istrinya meskipun hanya sekali, ia wajib membayar mahar secara sempurna sesuai dengan kadar yang disebutkan sewaktu akad. Namun apabila sewaktu akad jumlah mahar tidak disebutkan, ia wajib membayar mahar sesuai dengan adat kebiasaan (al-mahr al-mitsli).

Menurut para ulama -lanjut tulis az-Zuhaili- ayat ini yakni فَمَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَأَتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنّ فَرِيْضَةً “Dan istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah imbalannya kepada mereka sebagai suatu kewajiban”  tidak boleh dipahami sebagai ayat yang menghalalkan nikah mut'ah, yaitu menikahi seorang perempuan dalam jangka waktu tertentu saia seperti dalam jangka waktu sehari, seminggu, atau sebulan. Alasannya adalah karena Rasulullah saw. telah melarang dan mengharamkan praktik nikah mut'ah. Selain itu, Allah swt juga berfirman,"Nikahilah mereka dengan izin orang tuanya" (QS. an-Nisa' [4]: 25). Yang dimaksud nikah dalam ayat ini adalah nikah secara syariat dengan adanya wali dan dua saksi, sedangkan nikah mut'ah tidak memenuhi syarat-syarat tersebut.

Al-Alusi berpendapat pernyataan mengenai turunnya ayat tentang nikah mut'ah dianggap salah karena sistem atau aturan Al-Qur'an yang bertolak belakang dengannya, sebagaimana Allah SWT menjelaskan keharaman menikahi seorang perempuan, kemudian diperbolehkannya menikah sesuai syariat sebagaimana firman Allah wa uhilla lakum (وأحل لكم)/dan dihalalkan bagi kalian dan di dalamnya mengandung syarat sesuai kebutuhan makna, maka dianggap tidak sah (baca: batal) penghalalan farji/kemaluan seorang perempuan dan meminjamkannya. (Lihat, Tafsir al-Munir, Jilid: 3, Hlm: 37-38, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2015).

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwasannya dalam epistimologi tafsir seseorang yang memiliki kompetensi untuk menguraikan sebuah penafsiran terhadap teks-teks keagamaan tidak sewajarnya memonopoli kebenaran ataupun merevisionalisasi satu penafsiran pun, karena dalam kosmos tafsir semuanya bersifat kemungkinan. Dan yang lebih mengetahui maksud dari makna yang terkandung adalah si Pembicara (mutakallim) yaitu Allah swt. -Allah A’lam-

Daftar Rujukan:

1. Buku: al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, Penulis: Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i Penerbit: al-Hauzah al-Ilmiyah, Iran. Tanpa tahun.

2. Buku: Muqaddimah li Kitab Syarh al-Khabishi ‘ala Matn Tahdzib al-Mantiq, Penulis: Sa’d ad-Din at-Taftazani, Penerbit: Maktabah al-Iman. Kairo. 2005.

3. Buku: Tafsir al-Mishbah, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2005.

4. Buku: al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Penulis: Abu Abdullah Muhammad al-Qurthubi, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2006.

5. Buku: Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Penulis: Thahir Ibn Asyur, Penerbit: Dar Suhnun. Tunis. Tanpa tahun.

6. Buku: Tafsir al-Munir, Penulis: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2015.

7. www.wikipedia.com

8. Kajian rutin mingguan Tafsir Isyari yang bertempat di Pusat Studi al-Qur’an, oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca