Jumat, 11 Oktober 2019

Menghafal Qur'an, kenapa tidak?

Al-Qur’an adalah kalam Allah, kalam yang melibihi segala kalam-kalam yang ada di bumi dan di langit, nabi bersabda:
وفضل كلام الله على سائر الكلام كفضل الله على خلقه
Keutamaan kalam Allah dibandingkan seluruh kalam-kalam lainnya, seperti perbandingan kelebihan Allah terhadap makhluknya.

Hadits diatas terdapat dalam sunan at-Tirmidzi, bab Fadhail al-Quran, No 3176, dan dalam sunan ad-Darimi, nomor hadis 3419. Hadis tersebut dilabeli hasan oleh imam Tirmidzi (w:892), artinya dalam ilmu hadis, hadis tersebut bisa dijadikan hujjah. Begitulah nabi memberikan perumpamaan perbandingan antara kalam Allah dengan kalam makhluk-Nya, jaraknya sama antara makluk dangan penciptanya. Bak langit dan bumi, Sungguh sangat jauh perbedaannya.

Ada fenoma pemahaman yang agak sedikit menggelitik, sehingga penulis terdorong untuk menulis beberapa patah kata diatas layar berukuran 13 inci ini, mengatakan: “Ngapain hafal Qu’an, sekarang aplikasi Qur’an sudah canggih, ngapain hafal Qur’an kan yang penting pemahamannya… “ dan sederatan ungkapan-ungkapan yang terdengar biasa saja namun memiliki dampak yang begitu besar. Tidak kah orang yang mengungkapkan perkataan tersebut mengdengar hadis nabi bahwa salah satu tanda hari kiamat adalah diangkatnya al-Qur’an di muka bumi?

Dalam hadis tersebut tak ada keterangan bagaimana al-Qur’an itu diangkat, apakah al-Qur’an yang ada dalam lembaran itu tiba-tiba hilang, atau hafalan-hafalan al-Qur’an yang ada didada para penghafal tiba-tiba dicabut, atau Allah mematikan para penghafal Qur’an ketika mendekati kiamat. Namun hadis tersebut bisa juga berarti al-Qur’an akan diangkat di muka bumi ketika kiamat sudah dekat dengan tidak adanya lagi orang yang ingin menghafalkan al-Qur’an akibat pengaruh pemahaman yang mengatakan “ngapain hafal Qur’an, kan yang penting paham?”, “ngapain hafal Qur’an sekarang aplikasi Qur’an sudah bertebaran dimana-mana”. Sampai disini kita paham kan dampak besar perkataan tersebut?

Perkataan lain “ngapain hafal qur’an nanti bisa mengganggu kuliah…” penulis balik bertanya, buat apa kuliah? Ada yang menjawab supaya menjadi Alim (pandai), pertanyaan selanjutnya, adakah ulama-ulama terdahulu Alim namun tidak hafal Qur’an? Atau pertanyaan agak sedikit ekstrim “Apakah dengan menghafal Qur’an kita akan menjadi bodoh?” tentu TIDAK, buktinya para khulafaurrasyidin yang 4 semua hafal Qur’an dan ilmunya sama sekali tidak diragukan.

Khalifah Usman RA dalam sholat malamnya mengkhatamkan al-Qu’an dalam 2 rakaat. Berkata ibnu Mubarak: 4 dari empat imam yang mengkhatamkan al-Qur’an dalam 2 rakaat, Usman bin Affan, Tamim ad-Darii, Said bin Jubair dan Abu Hanifah. Dan coba kita telisik biografi para 4 imam Mashab, kita akan mendapati mereka semua hafal Qur’an, bahkan imam syafi’I diumur 7 tahun sudah hafal Qur’an sebelum beliau menjadi faqih. Begitulah seyogyanya para penuntut ilmu untuk mendahulukan al-Qur’an sebelum mempelajari ilmu-ilmu lain.

Penuntut ilmu semestinya memusatkan perhatiannya terlebih dahulu dalam menghafalkan al-Qur’an, kemudian beralih kepada ilmu-ilmu lain. Bekata Imam Nawawi: 
“Para Salaf tidak mengajarkan Hadits dan Fiqhi kecuali bagi yang hafal al-Qur’an”.

Disini penulis menarik sebuah kesimpulan bahwa dengan menghafal al-Qur’an bukan berarti bisa menghalangi untuk berprestasi di kuliah, menghafal al-Qur’an menghalangi untuk menjadi Alim. Sudah banyak bukti yang menyanggah perkataan tersebut, salah satu buktinya yaitu para sahabat nabi, ulama 4 mazhab dan juga ulama-ulama lainnya mereka Alim namun juga hafal Qur’an, bahkan mereka sejak kecil sudah hafal al-Qur’an, hal tersebut juga men-interpretasikan bahwa hafal al-Qur’an merupakan pondasi para salaf untuk mendalami ilmu-ilmu lainnya.

Sebelum menutup tulisan ini, Penulis akan menanggapi sebuah perkataan yang pernah muncul mengatakan “Semangat menghafal al-Qur’an jika dilakukan terburu-bru maka akan menimbulkan efek samping…” dalam ungkapannya, semangat menghafal al-Qur’an diunpamakan dengan makan, dia mengatakan “Akan tetapi, yang namanya minuman/makanan jikalau dikonsumsi secara berlebihan dan melebihi ambang batas, pasti akan menimbukan efek samping” untuk menetralisir ungkapan tersebut penulis hanya akan mengutip perkataan Amirul Mukminin Utsman bin Affan dan Huzaifah bin Yaman RA, keduanya berkata,

لو طهرت قلوبنا لم تشبع بقراءة القرآن
"Jika hati-hati kita bersih niscaya kita tak akan puas dalam membaca al-Qur'an"
Jadi akankah banyak menghafal al-Qur’an menimbulkan efek samping? Atau malah kita perlu memeriksa hati, jangan-jangan hati kita berkarat sehingga enggan untuk menghafal Qur'an?

Ada juga ungkapan mengatakan “jika tujuan ke Mesir hanya untuk fokus dengan hafalan Qur’an, toh di Indonesia lebih banyak waktu dan lingkungan khusus menghafal Qur’an yang boleh dikata lebih efektif daripada di Mesir…” berbicara tentang lingkungan efektif untuk menghafal Qur’an, justru di Mesir ini lah lingkungan yang sangat efektif. Dimana mahasiswa belum mempunyai tanggungan apa-apa, belum memikirkan harus kerja apa untuk makan besok? Belum ada istri yang harus diberi makan, belum ada umat yang perlu dibimbing.

Beda halnya ketika berada di Indonesia, ada perut yang meminta diisi, tentu kita akan malu untuk meminta ke orang tua dengan status yang sudah menyandang gelar sarjana (Lc). Ada istri dan anak-anak yang perlu diperhatikan kesejahteraannya dan ada umat yang perlu nasehat dan ajaran dari seorang azhari. Pertanyaannya, Dengan adanya segudang tanggungan seperti itu, apakah akan efektif lagi untuk mengahafal?

Indonesia adalah tempat memanen, mesir tempat menanam. Tanah air adalah tempat pengabdian atas ilmu-ilmu yang telah didapat di negeri rantau. Meminjam ungkapan da’i kondang Abdul Somad “disinilah mesir tempat mendowload, nanti pulang ke Indonesia tempat meng-upload…” ditambah lagi di Mesir ini ada yang tidak bisa didapatkan dengan mudah di Indonesia yaitu sanad al-Qur’an.

Tak perlu saling menjatuhkan, jika bisa berjalan dua-duanya kenapa tidak, kuliah sambil ngafal kenapa tidak?, ngafal sambil talaqqi kenapa tidak? Kuncinya hanya pada manajemen waktu. Namu jika tidak bisa berjalan dua-duanya, pilihlah al-Qur’an terlebih dahulu sebagaimana para ulama-ulama menghafalkan al-Qur’an kemudian mempelajari ilmu-ilmu lain. Bisa jadi dengan berkah al-Qur’an segala ilmu-ilmu mudah dipelajari. Toh segala ilmu adalah milik Allah. Nabi berkata:

يقول الرب عز وجل من شغله القرآن وذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين
Tuhan yang maha mulia dan maha besar berfirman: Barang siapa yang sibuk dengan al-Qur’an dan berdzikir kepada-Ku dangan tidak memohon kepada-Ku, maka ia akan kuberi sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang yang meminta. (HR. Tirmidzi)

Begitu juga ketika memilih al-Qur’an, manusia akan menjadi manusia terbaik

خيركم من تعلم القرآن وعلمه
"Sebaik-baik kalian yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya" (HR: Bukhari dan Muslim)
Dan orang yang memilih al-Qur’an akan menjadi orang-orang pilihan,

ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا
"Lalu Kami wariskan al-Qur’an kepada orang-orang pilihan diantara hamba Kami" (Fathir: 32)
Sungguh banyak sekali keutamaan-keutamaan orang yang memilih al-Qur’an, namun terakhir penulis mengakatan “orang yang memilih jalan al-Qur’an, ia bisa memberikan mahkota cahaya kepada kedua orangtuanya di Akhirat kelak.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca