Kamis, 12 September 2019

Seputar Definisi ‘Ulum al-Qur’an

Oleh: Fahrurozi Umi

Untuk memahami secara utuh objek yang dikaji, hendaknya kita ketahui terlebih dahulu definisi yang telah dirumuskan secara absah. Definisi memiliki peranan sangat penting pada setiap disiplin ilmu, karena dengan definisi, kita dapat memagari objek yang didefinisikan, guna membedakannya dari objek-objek lain yang tidak termasuk dalam rangkaiannya, sehingga dia dapat menjadi suatu kesatuan yang padu. Dan pengertian dari kata definisi itu sendiri -seperti yang dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)- adalah kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas. Atau bisa juga diartikan sebagai rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.

‘Ulum al-Qur’an (علوم القرآن) merupakan salah satu bidang ilmu yang membahas segala hal mengenai al-Qur’an, dan dia memiliki peranan yang sangat penting dalam memahami maksud yang terkandung di dalamnya, bahkan dikatakan tidak benar penafsiran seseorang, yang menafsirkan ayat al-Qur’an tanpa mempelajari dan menguasai disiplin ilmu ini, karena ilmu ini dianalogikan seperti kunci yang digunakan untuk membuka pintu rumah yang terkunci, dan seperti yang telah kita ketahui, dinilai mustahil seorang memasuki rumah yang pintunya terkunci rapat, dan dia memasukinya melalui pintu yang terkunci itu tanpa membukanya terlebih dahulu. Untuk mengenal lebih jauh komponen-komponen yang dibahas pada disiplin ilmu ini, hendaknya kita kenali terlebih dahulu definisi dari ‘Ulum al-Qur’an itu sendiri.

Sebelum memasuki pembahasan definisi dari Ulum al-Qur'an, setidaknya terlintas di dalam benak kita mengapa disiplin ilmu ini dinamakan ‘Ulum al-Qur’an bukan ‘Ulum at-Tafsir?

Karena penamaan ‘Ulum al-Qur’an jauh lebih luas cakupan maknannya dibandingkan
'Ulum Tafsir, ‘Ulum at-Tafsir hanya sebatas membahas tafsiran dari makna yang terkandung di dalam al-Qur’an saja. Tapi ‘Ulum al-Qur’an jauh lebih luas objek kajiannya yaitu, meninjau segi i’rab/posisi kata, qira’at/ragam bacaan, tajwid atau aturan dalam melafalkan lafazh al-Qur’an, dan lain sebagainya.

 Apa itu ‘Ulum al-Qur’an ?

‘Ulum Menurut Bahasa

‘Ulum al-Qur’an (علوم القرآن) terdiri dari dua suku kata yaitu ‘ulum (علوم) dan qur’an (قرآن), ketika dua suku kata tersebut terpisah, masing-masing memiliki makna yang berbeda. Berpagi-pagi kita bahas makna dari kata ‘ulum (علوم).
Kata ‘ulum (علوم) merupakan bentuk jamak dari ‘ilm (علم), menurut bahasa bermakna al-fahm (الفهم)/pemahaman, dan al-ma’rifah (المعرفة)/pengetahuan, dan terkadang bermakna al-yaqin (اليقين)/yakin. Tapi, Dr. Muhammad Salim Abu Ashi mengemukakan perbedaan antara ‘ilm dan ma’rifah dalam bukunya Fahm Judzur al-Bayan li asy-Syaikh Ghazlan. bahwasannya, kata ma’rifah lebih khusus dibanding kata ‘ilm, yaitu memahami sesuatu dengan pemikiran dan angan-angan yang dalam, tapi ‘ilm tidak.

‘Ulum Menurut Istilah

Kemudian pengertian ‘ilm menurut istilah tidaklah sesingkat definisi secara bahasa seperti yang telah dikemukakan di atas, akan tetapi para pakar berbeda pendapat dalam mendefinisikannya:

1. Definisi ‘ilm menurut hukama (حكماء)/filosof adalah gambaran sesuatu yang terlintas di dalam benak.

2. Menurut para teolog, ‘ilm adalah sifat yang dengannya tersingkap segala sesuatu bagi yang memfungsikannya, atau sifat yang mampu mendudukkan sesuatu pada posisinya, sehingga tidak memiliki kemungkinan untuk terjadi berkumpulnya dua hal yang saling bertolak-belakang.

3. Dr. Muhammad Abu Syahbah menuliskan dalam bukunya al-Madkhal li Dirasat al-Qur’an al-Karim dengan mengutip pendapat Ulama Tadwin bahwasannya ‘ilm memiliki tiga definsi:

a) ‘ilm adalah malakah (ملكة)/kemampuan untuk menghadirkan sebuah persoalan.
b) ‘ilm adalah idrak (إدراك)/pemahaman terhadap persoalan tersebut.
c) ‘ilm adalah masa’il (مسائل)/persoalan-persoalan dan prinsip-prinsip yang bukan berupa kemampuan dan pemahaman lagi, akan tetapi persoalan dan prinsip yang bersifat aktual.

Dan definisi yang dinilai tepat untuk ‘ilm dari tiga definisi di atas adalah definisi yang ketiga yaitu persoalan-persoalan dan prinsip-prinsip yang bukan berupa kemampuan untuk menghadirkannya ataupun pemahaman terhadap persoalan tersebut, akan tetapi persoalan dan prinsip yang benar-benar terjadi/aktual, dilengkapi dengan objek kajian, tujuannya.

Kemudian suku kata yang kedua dari kata ‘Ulum al-Qur’an (علوم القرآن) yaitu al-qur’an (القرآن).

Apa itu al-Qur’an ?

Al-Qur’an Menurut Bahasa

Al-Qur’an (القرآن) merupakan bentuk mashdar (مصدر) dengan wazan (وزن)/timbangan fu’lan (فعلان) seperti, ghufran (غفران)/ampunan, syukran (شكران)/syukur. Dan kata qur’an (قرآن) sendiri berasal dari kata qaraa (قرأ) atau al-qar’u (القرأ) yang secara bahasa memiliki makna jama’a (جمع)/menghimpun atau al-jam’u (الجمع)/himpunan, seperti ungkapan populer di kalangan orang Arab yaitu, (قرأت الماء في الحوض) “saya telah menghimpun/mengumpulkan air di dalam bejana.” Maka dari itu, sangat tepat jika al-Kitab al-Karim (الكتاب الكريم)/kitab yang mulia dinamakan dengan al-Qur’an, karena di dalamnya berisi kumpulan surah-surah dan ayat-ayat, atau boleh juga dikarenakan inti sari dari kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Injil, Zabur bermuara dan terangkum di dalam al-Qur’an. Akan tetapi menurut mayoritas pakar, kata al-Qur’an yang dijadikan nama bagi al-Kitab al-Karim ini berupa ‘alam murtajal (علم مرتجل) yaitu kata yang sejak pertama dijadikan sebagai nama sesuatu, seperti, Allah (الله), Injil (إنجيل) dan lain sebagainya.

Sementara pakar bahasa berpendapat bahwa, kata qur’an (قرآن) terambil dari kata qarana (قرن) yang bermakna dhamma (ضمّ)/menghubungkan, karena al-Qur’an secara gamblang menghubungkan antara surah, ayat, dan huruf satu sama lain.

Al-Qur’an Menurut Istilah

Al-Qur’an menurut istilah dapat dikategorikan menjadi dua komponen:

1. Definisi al-Qur’an sebagai sesuatu yang tertulis, sehingga yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah:
Yang tertulis di dalam mushaf dari awal surah al-Hamd sampai akhir surah an-Nas.

2. Definisi al-Qur’an sebagai suatu lafazh yang terucap, sehingga yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah:
Kalam Allah swt, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, setiap surahnya mengandung mukjizat (baca: otentik), yang disampaikan oleh banyak orang hingga sampai kepada kami dewasa ini melalui talaqqi dan musyafahah, dan dinilai ibadah ketika membacanya.

Jika kedua definisi di atas disatukan, maka definisi dari al-Qur’an itu menjadi:
Kalam Allah swt, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, setiap surahnya mengandung mukjizat (baca: otentik), dinilai ibadah ketika membacanya, yang tertulis di dalam mushaf, dan disampaikan oleh banyak orang hingga sampai kepada kami dewasa ini melalui talaqqi dan musyafahah.

Guna memperjelas definisi di atas, agaknya penulis akan sedikit merincinya:

1. “Kalam Allah swt”, kalimat ini menunjukkan pengkhususan, bahwasannya al-Qur’an hanya memuat perkataan Allah swt semata, bukan perkataan manusia, jin, ataupun malaikat.

2. “yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw”, potongan definisi ini menunjukkan pengkhususan, bahwasannya yang disebut dengan al-Qur’an adalah apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw saja, tidak selainnya, maka dari itu, Injil, Taurat, Zabur dan lain sebagainya tidak termasuk ke dalam cakupan definisi al-Qur’an.

3. “setiap surahnya mengandung mukjizat (baca: otentik)”, kalimat ini mengindikasikan bahwasannya, hadis qudsi dan ayat al-Qur’an yang dihapus secara tulisan bukan hukum, tidak termasuk ke dalam cakupan definisi al-Qur’an.

4. “dinilai ibadah ketika membacanya”, potongan definisi ini tidak memasukkan hadis qudsi dan qira'ah syadzah, ke dalam cakupan definisi al-Qur’an.
Lain halnya dengan Dr. Muhammad Salim Abu Ashi, dia menilai kalimat “dinilai ibadah ketika membacanya” bukan berupa definisi al-Qur’an, akan tetapi lebih tepatnya dikategorikan sebagai salah-satu hukum dari hukum-hukum al-Qur’an.

5. “dan disampaikan oleh banyak orang hingga sampai kepada kami dewasa ini melalui talaqqi dan musyafahah ”, dan lagi, kalimat ini secara gamblang menunjukkan bahwasannya ayat al-Qur’an yang terhapus secara tulisan bukan hukum, tidak termasuk ke dalam cakupan definisi al-Qur’an, karena dia tidak diriwayatkan seperti al-Qur’an pada umumnya.

Apa saja nama-nama al-Qur’an ?

Al-Qur’an memiliki banyak nama, di antaranya yang paling populer adalah:

1. Al-Qur’an (القرآن)
2.Al-Kitab (الكتاب)
3. Al-Furqan (الفرقان)
4. Adz-Dzikr (الذكر)
5. At-Tanzil (التنزيل)

Tidak kalah dengan melimpahnya nama yang disandangkan untuk al-Qur’an, dia juga disifati dengan sifat yang sangat banyak, antara lain: an-Nur, al-Huda, asy-Syifa, ar-Rahmah, al-Mau’izhah, al-Mubarak, al-Mubin, al-Busyra, al-‘Aziz, al-Majid, al-Basyir, dan an-Nadzir.

Apa perbedaan al-Qur’an, hadis qudsi, dan hadis nabawi ?

Kita dapat meninjau perbedaan tiga hal di atas melalui empat aspek:

1. Aspek penurunan

Lafazh al-Qur’an seluruhnya diturunkan atau bersumber dari Allah swt, sedangkan lafazh hadis qudsi dan hadis nabawi bersumber dari Nabi saw, dalam arti, Allah swt hanya menurunkan maknannya  saja.

Jika seperti itu, mengapa hadis nabawi tidak dinamakan juga hadis qudsi dikarenakan memiliki kesamaan dalam aspek penurunan makna bukan lafazh?. Dr. Muhammad Abdullah Diraz dalam bukunya an-Naba’ al-Azhim menjawab pertanyaan di atas: “Sesunguhnya, ketika kita menetapkan bahwa hadis qudsi itu adalah yang Allah swt turunkan maknannya dikarenakan tertera di dalamnya nash syar’i, tidak hanya sebatas itu, yang perlu diperhatikan juga ketika kita hendak menetapkan bahwa hadis itu adalah hadis qudsi, ketika di dalamnya terdapat penyandaran kepada Allah swt seperti, (قال الله تعالى كذا) “Allah berfirman: seperti ini.” Berbeda halnya dengan hadis nabawi yang tidak memiliki ciri seperti itu, yaitu penyandaran perkataan kepada Allah swt...”

2. Aspek kemukjizatan

Secara konsensus, ulama sepakat bahwasannya, lafazh al-Qur’an mengandung unsur mukizat di dalamnya. Berbeda dengan hadis qudsi dan hadis nabawi, yang lafazh-nya bersumber dari Nabi saw, dan tidak mengandung unsur mukjizat di dalamnya.

3. Aspek periwayatan

Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir atau lebih dari sepuluh orang yang meriwayatkan. Sedangkan hadis qudsi dan hadis nabawi, sebagian ada yang mutawatir periwayatannya dan selebihnya tidak mutawatir. Bahkan jika dikalkulasikan antara hadis mutawatir dan hadis yang tidak mutawatir, seperti sepuluh berbanding lima.

4. Aspek hukum

Al-Qur’an dinilai ibadah ketika membacanya, baik ketika shalat ataupun di luar shalat. Sedangkan kita tidak diperbolehkan membaca hadis, baik hadis qudsi maupun hadis nabawi ketika shalat menurut kesepakatan para ulama, dan tidak juga mendapat imbalan pahala ketika kita membacanya di luar shalat.
Dan mushaf al-Qur’an juga tidak boleh disentuh oleh perempuan yang sedang haid, nifas, atau laki-laki dan perempuan yang sedang dalam keadaan junub. Adapun menyentuh buku-buku hadis, demikian tidak dilarang menurut kesepakatan para ulama.

Apa itu ‘Ulum al-Qur’an ?

Setelah kita mengulas makna dari rangkaian kata kalimat ‘Ulum al-Qur’an, sekarang penulis akan tuliskan definisi dari kalimat ‘Ulum al-Qur’an itu sendiri seperti yang penulis kutip dari buku al-Mushtasyfa fi ‘Ulum al-Qur’an:

‘Ulum al-Qur’an adalah ilmu yang membahas persoalan-persoalan universal yang berkaitan dengan al-Qur’an dari beberapa aspek, yang memberikan pemahaman mengenai nash al-Qur’an dan maknanya, atau tujuannya. Demikan tidak lain hanya untuk memperjelas kebenaran bahwa al-Qur’an bersumber dari Allah swt.”

Mengapa kalimat ‘Ulum al-Qur’an menggunakan kata jamak pada kata ‘Ulum, bukan berupa mufrad/tunggal yaitu ‘Ilm ?

Penulis mengutip pendapat Muhammad Abd al-Azhim az-Zarqani dalam bukunya Manahil al-‘Irfan bahwasannya: “Ilmu ini dinamakan ‘Ulum al-Qur’an bukan ‘Ilm al-Qur’an karena, untuk mengindikasikan bahwa setiap pembahasan pada ilmu ini, jika terpisah, maka masing-masing akan menjadi sebuah disiplin ilmu yang baru, seperti, Ilmu Tafsir, Ilmu Qira'at, Ilmu Tajwid, Ilmu ar-Rasm al-'Utsmani, Ilmu Gharib al-Qur'an, Ilmu I'jaz al-Qur’an, Ilmu an-Nasikh wa al-Mansukh, Ilmu al-Muhkam wa al-Mutasyabih, Ilmu I'rab al-Qur'an, Ilmu Majaz al-Qur'an, dan lain sebagainya. -Allah A'lam-

Daftar Rujukan:

1. Buku: al-Madkhal li Dirasat al-Qur’an al-Karim, Karya: Dr. Muhammad Ibn Muhammad Abu Syahbah, Penerbit: Maktabah as-Sunnah, 2014.

2. Buku: Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an, Karya: Muhammad Abd al-Azhim az-Zarqani, Penerbit: Maktabah al-Iman. 2017.

3. Buku: an-Naba’ al-Azhim, Karya: Dr. Muhammad Abdulllah Diraz, Penerbit: Maktabah al-Iman. 2011.

4. Buku: Fahm Judzur al-Bayan li asy-Syaikh Ghazlan, Karya: Dr. Muhammad Salim Abu Ashi, Penerbit: Maktabah al-Iman. 2018.

5. Buku: Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, Karya: Manna’ al-Qadhthan, penerbit: Maktabah Wahbah. 2015.

6. Buku: al-Madkhal ila al-Qur’an al-Karim, Karya: Dr. Muhamad Abdullah Diraz, Penerbit: Maktabah al-Iman. 2011.

7. Buku: al-Mushtasyfa fi ‘Ulum al-Qur’an, Karya: Dr. Muhammad Salim Abu Ashi. Tanpa penerbit. Tanpa tahun.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Terbanyak Dibaca