Jumat, 20 November 2020

Milad PTQI ke-V; Rangkaikan Wisuda Angkatan ke-II dan Peringatan Maulid Nabi Saw

PTQI Mesir gelar acara Milad ke-V pada Rabu (11/11). Bertempat di Markaz PTQI, jl. Abdullah al-Juwaini-Darbul Ahmar, Acara Milad tahun ini dirangkai dengan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Wisuda Tahfidz Angkatan ke-II.

Diawali dengan peringatan Maulid Nabi Saw pada pukul 14.00 Clt, dan dihadiri oleh Syekh Sidi Fauzi Konate, salah seorang pengajar di Masjid Al-Azhar Mesir. Acara dimulai dengan pembacaan Barzanji dan Burdah, diikuti dengan pemberian taujihat oleh Syekh Sidi Fauzi Konate. Sebelum memberikan taujihat, beliau mensyarah (red: menerangkan) beberapa bait sya’ir Burdah Imam Bushiri. Selanjutnya beliau menekankan pentingnya menjaga waktu bagi penuntut ilmu, dengan tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa melalaikan dari ilmu serta memperbanyak menghadiri majelis ilmu. Beliau juga berpesan agar para penuntut ilmu hendaknya memulai dengan memperkuat ilmu alat agar lebih mudah dalam menggapai ilmu maqashid

Acara Maulid Nabi Saw ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah serta pemberian sertifikat penghargaan oleh direktur PTQI Mesir, al-Ustadz Abdul Rahim Dani MA kepada Syekh Sidi Fauzi Konate. 

                                    

Setelah isya tepatnya pukul 18.30 Clt, dilanjutkan dengan acara wisuda tahfidz Al-Qur’an angkatan ke-II yang diikuti 11 wisudawan dan 7 wisudawati, wisuda tahun ini begitu meriah karena turut dihadiri oleh ketua dan wakil Presiden PPMI Mesir, ketua lembaga tahfidz di Mesir, serta beberapa gubernur kekeluargaan. Ketua PPMI Mesir, Farhan Aziz Wildani dalam sambutannya menyatakan “Pada malam ini, kita melaksanakan wisuda angkatan kedua, ini (hafalan Al-Qur’an) adalah amanat dari Allah Swt yang harus dijaga”. Selain itu ketua presiden PPMI yang akrab dipanggil Farhan itu berharap PTQI dapat lebih banyak menebar manfaat khususnya kepada masisir. Setelah pemberian ijazah dan sanad kepada para wisudawan, acara wisuda ditutup dengan pembacaan do’a oleh Wakil Direktur PTQI, al-Ustadz Amril Muhaimin Lc. 

Pada pukul 22.00 Clt, sebagai penghujung acara yaitu Milad PTQI ke-V. Dipandu Syahrul Wafir dan Moch. Yusril selaku pembawa acara, Milad PTQI ke-V berlangsung meriah. Dikemas dengan non formal, acara milad dimulai dengan nonton bareng film karya anggota PTQI banin, dilanjutkan pembagian hadiah lomba serta pemotongan kue oleh pimpinan PTQI. Kemudian ditutup dengan tabadul hadayah atau pertukaran hadiah oleh masing-masing peserta milad.

Rep: Yusril






Share:

Peringati Hari Milad ke-V, PTQI adakan Sima'an Akbar 30 Juz

PTQI-Mesir, Sabtu dan Minggu (7-8/11) Masih dalam suasana keberkahan bulan Rabiul Awal, PTQI adakan Sima'an Akbar 30 Juz. Acara yang berlangsung selama dua hari ini, dimulai pukul 09.00 Clt sampai pukul 20.00 Clt bertempat di Sekretariat PTQI Mesir. 

Acara yang diikuti oleh para peserta mukim dan nonmukim PTQI-Mesir ini, termasuk dalam salah satu rentetan acara Milad PTQI Mesir yang ke-V. Al-Quran sebanyak 30 juz dibagi untuk 62 pembaca sima'an, jadi rata-rata satu juz dibaca oleh dua orang. Kendala pada acara kali ini, beberapa pembaca sima'an mendadak berhalangan hadir, namun bisa teratasi ketika ada beberapa peserta lain yang langsung bisa menggantikan.

Tujuan terbesar acara ini tidak lain adalah untuk menumbuhkan semangat murajaah,  menguji kekuatan hafalan para peserta PTQI baik mukim maupun nonmukim dan tentunya berharap rahmat Allah Swt. Sebagian besar peserta terlihat begitu menghayati dalam membacakan Al-Qur'an, terbukti dengan pembacaan yang khusyu dan keragaman jenis irama yang mereka lantunkan membuat para pendengarnya ikut larut dalam penghayatan kalam Allah. 

Dikemas dengan berbeda, Acara Milad PTQI ke-V kali ini, secara perdana diawali dengan Sima'an Akbar 30 juz selama dua hari, lomba outdoor di hari selanjutnya, dan pada hari berikutnya adalah Milad yang dirangkaikan bersama dengan Maulid Nabi Saw dan Wisuda Angkatan ke-II.

"Acara Milad suatu lembaga merupakan acara yang sangat krusial, bukan seberapa besar dan megah acara itu diadakan, tapi momentum kebersamaan dan evaluasi diri untuk menoleh sesaat ke belakang, mengoreksi setahun lalu, kemudian menapaki setahun kedepan dengan rencana-rencana yg lebih baik. Suatu kesyukuran dapat menjadi bagian dalam Acara Milad ke-V kali ini, dimana tugas kita adalah merangkai rencana dan berusaha, sisanya biar Tuhan yang mengintervensi." Ungkap Ferdi Setiawan, selaku ketua panitia Milad PTQI ke-V.

Rep: Risma



Share:

Senin, 13 April 2020

Tuhan Mau Kita Berbeda: Meninjau Konsep Keberagaman Al-Qur’an

Nashr Hamid Abu Zaid (Pakar Hermeneutika Kenamaan Mesir)"

Oleh: Fahrurozi Umi

Berangkat dari frasa eksosentris dalam term teologis, laa ta’tsir illa li al-bari’ (لا تأثير إلا للباري)/tiada yang dapat memberi dampak (baca: akibat) yang aktual, kecuali Allah turut serta berperan di dalamnya (baca: sebab). (Lihat, al-Qaul as-Sadid fi ‘Ilm at-Tauhid, Jilid: 2, Hlm: 164, Penerbit: al-Azhar. Kairo. Tanpa tahun).

Ungkapan di atas dipopulerkan oleh para teolog bermazhab Asy’ari, dan ungkapan di atas sedikit memberikan interpretasi menyangkut hukum sebab-akibat (Kausalitas), bahwasannya yang menjadi sebab segala sesuatu itu adalah Allah swt, dan juga ungkapan di atas seakan menepis anggapan bahwasannya hukum Kausalitas adalah hukum alam.

Penulis tidak akan panjang-lebar membahas polemik di atas, hemat penulis “dalam ajaran Islam” seyogianya Kita meyakini bahwasannya segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidak lain sudah ditetapkan oleh Allah swt, dan seperti yang telah Kita ketahui bahwasannya ketetapan (taq’dir) bermula dari kehendak (iradah).

Adapun jika Kita melakukan observasi ataupun berkontemplasi, pastilah dapat Kita sadari bahwasannya semua makhluk hidup ataupun benda mati yang dapat kita jangkau pengetahuan tentangnya pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya, tidak terkecuali saudara kembar yang secara eksplisit kita lihat serupa, tapi jika kita tilik lebih jeli lagi pasti kita dapat menemukan titik perbedaannya.

Maka dari itu, jangan mempersoalkan perbedaan; karena yang demikian adalah fitrah/sifat asal makhluk ciptaan Tuhan. Dan bukankah musik akan terasa hambar jika hanya memukul genderang?

Perbedaan Arti Kosakata al-Qur’an (Qur’anic Vocabulary)

Di dalam al-Qur’an yang diyakini sebagai himpunan dari kalam-Nya pun menghendaki manusia untuk berbeda dalam memahami dan menarik kesimpulan darinya. Saya ambil contoh kata al-quru’ (القروء) yang merupakan bentuk plural dari al-qur’u (القرء) dalam QS. al-Baqarah [2]: 228 memiliki dua arti yang berbeda bahkan bertolak belakang.

Tiga quru’, oleh sementara ulama -antara lain yang bermazhab Hanafi-, dipahami dalam arti tiga kali haid. Jika demikian, yang dicerai oleh suaminya, sedang ia telah pernah bercampur dengannya dan dalam saat yang sama dia belum memasuki masa menopause, maka setelah dicerai tidak boleh kawin dengan pria lain kecuali setelah mengalami tiga kali haid. Pandangan ini berbeda dengan mazhab Malik dan Syafi'i yang memahami tiga quru' dalam arti tiga kali suci. Suci yang dimaksud di sini adalah masa antara dua kali haid.

Perbedaan pendapat ini hasilnya terlihat pada saat datangnya haid ketiga. Yang berpendapat bahwa quru’ berarti suci, maka selesai sudah iddah atau masa tunggunya ketika itu, tetapi yang memahaminya dalam arti haid, maka masa tunggunya masih berlanjut sampai selesainya haid ketiga. Yang memahaminya dalam arti suci memberi kemudahan kepada wanita, di samping memberi tenggang waktu penangguhan bagi suami. Sedangkan yang memahaminya dalam arti haid lebih memperpanjang lagi waktu penundaan bagi suami, karena perceraian tidak dilakukan kecuali dalam keadaan wanita suci. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 1, Hlm: 488, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2002).

Dari ayat di atas dapat Kita pahami bahwasannya, Allah Swt tidak memastikan atau menegaskan arti dan maksud yang terkandung di dalam kata tersebut, maka dari itu, Kita dapat memahaminya sesuai dengan makna yang dicakupnya selama tidak bertentangan dengan teks-teks keagamaan yang lain. Adapun konklusi dari paparan di atas adalah, ‘Tuhan mau kita berbeda’.

Perbedaan Interpretasi al-Qur’an (Qur’anic Interpretation)

Ayat 2 surah al-Kautsar [108] yakni pada kata fa shalli (فصلّ) dipahami oleh Ibnu Humaid sebagai perintah melaksanakan salat fardu, dan Ibnu Humaid memahaminya sebagai perintah salat id adhha, dan Ya’qub memahaminya dalam arti salat subuh/fajar di Muzdalifah. (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 26, Hlm: 1035-1041, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2010).
Sedangkan Dr. Muhmammad Sayyid Tanthawi (1928-2010 M) dan juga Mutawalli asy-Sya’rawi (1911-1998 M) memahaminya sebagai perintah untuk bersyukur, tanpa membatasi representasi dari rasa syukur itu. (Lihat Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Jilid: 15, Hlm: 522-523, Penerbit: Dar Nahdhah Mishr, Kairo. 1997). Adapun al-Alusi (1802-1854 M) memahaminya sebagai perintah untuk berdoa. (Lihat, Ruh al-Ma’ani, Jilid: 15, Hlm: 343, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2009).

Adapun kata inhar (انحر) dipahami oleh Ibnu Humaid sebagai perintah meletakkan tangan kanan di tengah pergelangan tangan kiri, kemudian menempatkannya di atas dadanya ketika salat, dan Ibnu Humaid memahaminya dalam arti menyembelih hewan kurban, dan Ya’qub memahaminya dalam arti menyembelih hewan kurban di Mina. (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 26, Hlm: 1035-1041, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2010).

Sedangkan al-Alusi (1802-1854 M) memahami perintah di atas dalam arti berakikah. (Lihat, Ruh al-Ma’ani, Jilid: 15, Hlm: 343, Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2009). Dan di sini pun, sekali lagi Allah tidak memastikan makna dan maksud yang terkandung pada kalimat perintah di atas. Dan konklusi yang dapat diambil di sini adalah, Tuhan memang mau kita berbeda.

Ragam bacaan (qira’at) al-Qur’an

Tiliklah ragam bacaan (qira’at) QS. Al-Ahzab [33]: 33 yang Ibnu Jarir ath-Thabari (839-923 M) tuliskan dalam tafsirnya Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Mayoritas ulama qira’at Madinah dan sementara ulama qira’at Kufah membaca huruf qaf (ق) pada kalimat “وقرْن في بيوتكنّ” dengan fathah yakni, wa qarna fi buyutikunna (وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ). Sedang, sebahagian besar ulama qira’at Kufah dan Bashrah membaca huruf qaf (ق) pada kalimat di atas dengan kasrah yakni, wa qirna fi buyutikunna (وَقِرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ).

Apakah perbedaan bacaan di atas memengaruhi penafsiran ayat tersebut? -dengan jawaban singkat- iya. Jika kata tersebut Kita baca dengan fathah -yakni wa qarna- maka makna yang hadir adalah berdiamlah kalian -isteri-isteri Nabi- di rumah-rumah kalian. Dan jika Kita membacanya dengan kasrah -yakni wa qirna- maka makna yang hadir adalah tenanglah kalian di rumah-rumah kalian. (Lihat, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Jilid: 19, Hlm: 96, Penerbit: Hajr. Kairo. 2001). Dan lebih daripada itu, legalitas hukum yang hadir pun akan berbeda, jika kita memahami kata perintah tersebut dengan arti ‘berdiamlah’, maka ayat tersebut berupa penegasan terhadap wanita agar tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan yang mendesak. Sedang, jika kita memahaminya dalam arti ‘tenanglah’, maka perintah tersebut hanya berupa anjuran untuk berdiam di rumah dan diperbolehkan untuk keluar jika ada kebutuhan.

Prihal Legalisasi Kronologi Turunnya Ayat (Asbab an-Nuzul)

Salah-satu objek kajian di dalam ilmu al-Qur’an (‘Ulum al-Qur’an/Qur’anic Theory) tepatnya prihal legalisasi kronologi turunya ayat dan penerapannya dalam memahami teks-teks al-Qur’an, dikenal dengan dua ungkapan, pertama, al-‘ibrah bi ‘umum al-lafzhi la bi khushush as-sabab (العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب)/Patokan dalam memahami ayat adalah lafaznya yang bersifat umum, bukan sebabnya. Dan yang kedua -ini yang dianut oleh segelintir ulama-, al-‘ibrah bi khushush as-sabab la bi ‘umum al-lafzhi (العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ)/Pemahaman ayat adalah berdasar ‘sebabnya’ bukan redaksinya yang bersifat umum. (Lihat, ‘Ulum al-Qur’an al-Karim, Hlm: 28-29, Penerbit: al-Azhar. Kairo. 2020).

Dua kaidah di atas dapat Kita terapkan pada QS. Al-Maaidah [5]: 33, firman-Nya: “Tidak lain balasan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di bumi, kecuali mereka dibunuh tanpa ampun, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, atau diasingkan dari bumi (tempat tinggalnya).”

Salah satu riwayat menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan hukuman yang ditetapkan oleh beberapa sahabat Nabi saw., dalam kasus suku al-‘Urainiyin. Imam Bukhari (810-870 M) meriwayatkan bahwa sekelompok orang dari suku ‘Ukal dan ‘Urainah datang menemui Nabi saw., setelah menyatakan keislaman mereka. Mereka mengadu tentang sulitnya kehidupan mereka. Maka beliau memberi mereka sejumlah unta agar dapat mereka manfaatkan. Di tengah jalan mereka membunuh pengembala unta itu, bahkan mereka murtad. Mendengar kejadian tersebut, Nabi saw., mengutus pasukan berkuda yang berhasil menangkap mereka. Pasukan itu memotong tangan dan kaki serta mencungkil mata mereka dengan besi yang dipanaskan, kemudian ditahan hingga meninggal.

Kalau kita memahami makna memerangi Allah dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di bumi dalam pengertian umum, terlepas dari Sabab an-Nuzulnya, maka banyak sekali kedurhakaan yang dicakup oleh redaksi tersebut. Nah, apakah kaidah di atas mencakup semuanya ? jawabannya: Tidak! Keumuman lafaz itu terikat dengan bentuk peristiwa yang menjadi Sabab an-Nuzul sehingga ayat ini berbicara tentang sanksi hukum bagi pelaku yang melakukan perampokan yang disebut oleh sebab di atas, yakni sekelompok orang dari suku ‘Ukal dan ‘Urainah, serta semua yang melakukan seperti apa yang dilakukan oleh rombongan kedua suku itu (baca: perampokan).

Sedang, yang memahami ayat berdasar ‘sebabnya’ bukan redaksinya, kendati redaksinya bersifat umum. Jadi, menurut mereka ayat di atas hanya berlaku terhadap kedua suku ‘Ukal dan ‘Urainah.

Sementara ulama berkata bahwa kendati kedua rumusan di atas bertolak-belakang, tetapi hasilnya akan sama, karena hukum perampokan yang dilakukan selain mereka dapat ditarik dengan menganalogikan (qiyas) kasus baru dengan kasus turunnya ayat di atas. (Lihat, ‘Ulum al-Qur’an al-Karim, Hlm: 29, Penerbit: al-Azhar. Kairo. 2020).

Agaknya persoalan di atas tidak sesederhana apa yang dikemukakan ini dan tidak selalu hasilnya sama, karena bisa saja semua menggunakan analogi, tetapi syarat-syarat penggunaannya dapat berbeda antara satu mazhab dengan mazhab lain. Selanjutnya, apakah ketetapan hukum baru harus juga mempertimbangkan tempat dan waktu serta situasi kejadian atau tidak? Kalau tidak mempertimbangkannya, maka apa makna analogi itu?

Memang para ulama membahas maksud yang bersifat umum itu, dalam hal ini adalah kalimat yuharibuna Allah wa Rasulahu (memerangi Allah dan Rasul-Nya). Imam Malik (771-795 M) memahaminya dalam arti “mengangkat senjata untuk merampas harta orang lain yang pada dasarnya tidak ada permusuhan antara yang merampas dan yang dirampas hartanya,” sebagaimana kasus di atas, baik perampasan tersebut terjadi di dalam kota maupun di tempat terpencil. Imam Malik (771-795 M), dengan demikian, tidak sepenuhnya mempertimbangkan tempat dan situasinya. Ini berbeda dengan Imam Abu Hanifah (699-767 M) yang menilai bahwa perampasan tersebut harus terjadi di tempat terpencil, seperti halnya kasus turunnya ayat ini, sehingga jika terjadi di kota atau tempat keramaian, maka ia tidak termasuk dalam kategori yuharibuna Allah wa Rasulahu.  (Lihat, Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qut’an, Hlm: 239-242, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2015).

Perbedaan Teori Interpretasi al-Qur’an (Qur’anic Interpretation Theory)

Penulis ambil contoh pendekatan Denotasi atau yang menitikberatkan pada pemahaman makna zahir teks dan pendekatan Konotasi atau yang menitikberatkan pada pengertian yang implisit/tersirat, dalam firman Allah swt QS. Al-Maaidah [5]: 38:
السَّارقُ والسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما جَزاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً من الله وَالله عَزِيزٌ حَكِيمٌ (38)

“Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5]: 38).

Dapat dipahami melalui dua pendekatan di atas, Sayyid Quthb (1906-1966 M) -pujangga dan penafsir kenamaan Mesir- dalam tafsirnya fi Zhilal al-Qur’an memahami perintah faqtha’u (فاقطعوا) di atas melalui pendekatan denotatif, yakni Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan sanksi potong tangan bagi pencuri laki-laki dan pencuri perempuan; karena secara etimologis kata qatha’a (قطع) berarti memotong atau memisah (ash-Sharmu (الصرم)). (Lihat, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Jilid: 5, Hlm: 101, Penerbit: Dar al-Fikr, Beirut. 1399 H).

Adapun kata aydiyahuma (أيديهما)/tangan keduanya yang merupakan bentuk plural dari yad (يد) dipahami olehnya dengan makna etimologisnya yakni tangan atau anggota badan dari siku sampai ke ujung jari dari pergelangan sampai ujung jari (Lihat, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Versi: Digital, Sumber: Play Store). (Lihat, fi Zhilal al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 271-272, Penerbit: Dar asy-Syuruq. Kairo. 2003).

Sedangkan pendapat sementara ulama -yang dikutip Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Mishbah tanpa menyebutkan nama ataupun sektenya- memahami perintah (فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما) “Potonglah tangan keduanya.” Melalui pendekatan konotatif atau dalam arti Majazi/metafora, yakni lumpuhkan kemampuannya!; ini dikarenakan konotasi dari kata qatha’a (قطع) adalah melumpuhkan, dan konotasi dari kata yad (يد) adalah kekuasaan/kemampuan (al-Quwwah (القوة)).

Pelumpuhan dimaksud antara lain mereka pahami dalam arti “penjarakan dia!”; karena dengan memenjarakannya dia tidak dapat melakukan tindak kriminal apapun, dan ini selaras dengan frasa yang populer di kalangan orang-orang Arab yaitu iqtha’u lisanahu (اقْطَعُوا لِسَانَهُ)/potonglah lidahnya dalam arti jangan biarkan dia mengomel atau mengecam dengan jalan memberinya uang. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 3, Hlm: 94-95, Penerbit: Lentera Hati, Tangerang. 2002).

Perbedaan Teori Ushul Fiqh (Islamic Legal Theory)

Penulis ambil contoh teori Naskh (نسخ)/penghapusan, di sini penulis mendudukkan persoalan pada polemik penahapan hukum (at-Tadarruj (التدرّج)), apakah ayat yang datang setelah ayat yang berbicara mengenai objek hukum yang sama menghapus hukum yang lama atau tidak ?.

Ambillah sebagai contoh ayat-ayat yang berbicara tentang minuman keras. Sementara ulama menyatakan bahwa ayat pertama yang berbicara tentang minuman keras adalah QS. An-Nahl [16]: 67: “Dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.”

Pada ayat di atas Allah Swt tidak berbicara secara spontan mengenai keharaman dan dampak negatif dari meminum khamar, melainkan hanya mengontraskan antara rezeki yang baik dan rezeki yang tidak baik.

Setelah itu, turun QS. Al-Baqarah [2]: 219: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari keduanya’.” Di sini telah ditegaskan keburukannya.

Selanjutnya turun ayat ketiga, yakni firman-Nya dalam QS. An-Nisa’ [4]: 43: “Hai orang-orang yang beriman !, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menyadari apa yang kamu ucapkan.” Di sini telah lahir larangan, walau hanya pada waktu-waktu tertentu, yakni menjelang pelaksanaan salat.
Ayat terakhir menyangkut minuman keras menyatakan: “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

Bagi yang berkata ada nasikh/pengahapusan, maka dia telah menutup kemungkinan adanya penahapan (at-Tadarruj) dengan alasan hukum final tentang khamar telah ditetapkan. Sedangkan yang tidak menganggap ayat-ayat di atas mengandung nasikh, masih memberlakukan tuntunan ayat-ayat tersebut bagi mereka yang baru masuk Islam, tetapi telah terbiasa dengan minuman keras, masih memberlakukannya buat mereka, tetapi mengharuskan mereka agar tahap demi tahap meninggalkannya. (Lihat, Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qut’an, Hlm: 291-294, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2015).

Paparan di atas, penulis memusatkan perhatian pada kajian al-Qur’an dan ilmunya; karena al-Qur’an merupakan representasi dari kehendak (iradah) Tuhan yang sebenarnya. Dengan al-Qur’an -yang di mana dianalogikan oleh Muhammad Abdullah Diraz seperti mutiara yang ketika dilihat dari satu sisi yang memancarkan sinar, maka sisi lain pun memancarkan sinar lain yang berbeda-beda- Kita dapat menyadari bahwasannya Kita dituntut untuk berbeda dalam hal apapun oleh Tuhan tidak terkecuali dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, menganalogikan al-Qur’an sebagai “Hidangan Tuhan”, yakni di samping Si Penghidang adalah yang Maha Kaya, maka jangan heran jika hidangan yang dihidangkan-Nya pun bermacam-macam, kita juga dipersilahkan untuk mencicipi hidangan tersebut, dengan membebaskan setiap orang untuk menyantap semua makanan yang terhidang.

Maka dari itu, perbedaan yang telah ditetapkan oleh Tuhan ini layaknya kita rawat dan jaga, yakni dengan saling mengenal, menghargai perbedaan dan saling berbagi kasih, seperti dalam firman-Nya: “Wahai manusia ! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13). -Allah A’lam-

Daftar Rujukan:

1. Buku: al-Qaul as-Sadid fi ‘Ilm at-Tauhid, Penulis: Abu Daqiqah, Penerbit: al-Azhar. Kairo. Tanpa tahun.

2. Buku: Tafsir al-Mishbah, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2002.

3. Buku: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Penulis: Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Penerbit: Dar al-Hadits. Kairo. 2010.

4. Buku: Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, Penulis: Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi, Penerbit: Dar Nahdhah Mishr, Kairo. 1997.

5. Buku: Ruh al-Ma’ani, Penulis: Mahmud al-Alusi Penerbit: Dar al-Hadits, Kairo. 2009.

6. Buku: Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, Penulis: Sayyid Quthb, Penerbit: Dar asy-Syuruq, Kairo. 2003

7. Buku: Mu’jam Maqayis al-Lughah, Penulis: Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakaria, Penerbit: Dar al-Fikr. Beirut. 1399 H.

8. Buku: Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qut’an, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2015.

9. Buku: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Penulis: Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Penerbit: Hajr. Kairo. 2001.

10. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Versi: Digital, Sumber: Play Store.

(Penulis adalah mahasiswa fakultas tingkat 2 fakultas ushuluddin Universitas Al-Azhar)
Share:

Selasa, 31 Maret 2020

Konseptualisasi Tafsir (3); Rekonstruksi Interpretatif Sanksi Potong Tangan



Oleh: Fahrurozi Umi

Anak kecil kisaran berumur lima sampai enam tahun di Indonesia -tidak terkecuali di Banten- sudah diberi wangsit oleh kedua orang tuanya -terutama keluarga Muslim- bahwa orang yang mencuri -apapun itu bentuknya- akan dipotong tangan dan kakinya, berangkat dari doktrin (baca: ancaman/kecaman) itu, mereka pun was-was dan takut untuk melakukan tindak kriminal (baca: pencurian).

Pada prinsipnya, perumusan sanksi dan hukuman tidak lain sebagai kontrol sosial, yang di mana bertujuan untuk menegakkan panji keadilan bagi setiap individu dan membumihanguskan kezaliman.
Sanksi potong tangan yang biasa diperuntukan bagi pencuri ini populer dalam literasi khazanah Islam. lain halnya dengan Hukum Positif di Indonesia, yang di mana sanksi dan hukum pidana telah dirumuskan/diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sebagai contoh: Bab XXII Pasal 362 KUHP prihal Pencurian Biasa, “Barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.” (Lihat, https://seniorkampus.blogspot.com).

Adapun sanksi potong tangan yang dikenalkan oleh Islam itu sendiri, berdasar pada firman Allah swt QS. Al-Maaidah [5]: 38:

السَّارقُ والسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما جَزاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً من الله وَالله عَزِيزٌ حَكِيمٌ (38)

“Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5]: 38).

Dengan ayat di atas dan teks-teks keagamaan lain yang mendukungnya, umat Muslim dengan tegas menggeneralisir sanksi potong tangan bagi pencuri -baik laki-laki ataupun perempuan- yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Apakah mencuri sama dengan korupsi, merampok, merampas dan mencopet ?
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab berpendapat bahwa mencuri berbeda dengan korupsi, merampok, mencopet dan merampas. Mencuri adalah mengambil secara sembunyi-sembunyi barang berharga milik orang lain yang disimpan oleh pemiliknya pada tempat yang wajar, dan si pencuri tidak diizinkan untuk memasuki tempat itu. Dengan demikian, siapa yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya tetapi diamanatkan kepadanya, maka ia tidak termasuk dalam pengertian mencuri oleh ayat ini, seperti jika bendaharawan menggelapkan uang. Tidak juga jika mengambil harta, di mana ada walau sedikit dari harta itu yang menjadi miliknya, seperti dua orang atau lebih yang bersyarikat dalam sebuah usaha, atau mengambil dari uang negara. Tidak juga disebut pencuri orang yang mengambil sesuatu dari satu tempat yang semestinya barang itu tidak diletakkan di sana. Toko yang terbuka lebar, atau rumah yang tidak terkunci, bila dimasuki oleh seseorang lalu mengambil sesuatu yang berharga, maka yang mengambilnya terbebaskan dari hukum potong tangan karena ketika itu pemilik toko atau rumah tidak meletakkan barang-barangnya di tempat wajar, sehingga merangsang yang lemah keberagamaannya untuk mencuri.

Demikian, agama di samping melarang mencuri, juga melarang pemilik harta membuka peluang bagi pencuri untuk melakukan kejahatannya. Alhasil, hukuman ini tidak serta merta dijatuhkan, apalagi Rasul saw. bersabda, “Hindarilah menjatuhkan hukuman bila ada dalih untuk menghindarinya.” (HR. Ibnu Adiy). (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 3, Hlm: 93-94, Penerbit: Lentera Hati, Tangerang. 2002).

Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA -Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta- pernah mengutarakan sebuah interpretasi menyangkut ayat di atas -pada pertemuan keempat kajian rutin mingguan Tafsir Isyari yang bertempat di Masjid Bait al-Qur’an, Tangerang- tanpa menggenealogikannya kepada seorang cendikiawan ataupun sekte tertentu, dia hanya menguraikan sebuah penafsiran yang penulis nilai sedikit berbeda dengan penafsiran yang dihidangkan oleh penafsir-penafsir kenamaan klasik seperti ath-Thabari (839-923 M), al-Qurthubi (1214-1273 M), ar-Razi (1149-1210 M), az-Zamakhsyari (1075-1114 M), Abu Su’ud (1490-1574 M), dan lain-lain.

Dia berpagi-pagi memaparkan sebuah metode/pendekatan guna memahami teks-teks al-Qur’an yakni pendekatan Denotasi atau yang menitikberatkan pada pemahaman makna zahir teks dan pendekatan Konotasi atau yang menitikberatkan pada pengertian yang implisit/tersirat, kemudian dia mengaplikasikan kedua kaidah tersebut pada ayat 38 surah al-Maaidah di atas, dia menguraikan bahwasannya kata faqtha’u (فاقطعوا)/potonglah dapat dipahami melalui dua pendekatan di atas, jika kita menggunakan pendekatan denotatif pada kata tersebut, maka pemahaman yang dihasilkan adalah benar-benar perintah untuk memotong; karena secara etimologis kata qatha’a (قطع) berarti memotong atau memisah (ash-Sharmu (الصرم)). (Lihat, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Jilid: 5, Hlm: 101, Penerbit: Dar al-Fikr, Beirut. 1399 H). Dan kata faqtha’u (فاقطعوا) jika dipahami melalui pendekatan konotatif, maka pemahaman yang hadir di benak kita menyangkut kata qatha’a (قطع) adalah melumpuhkan, sama halnya dengan memotong, yang bertujuan melumpuhkan -kekuatan/kemampuan- sesuatu yang dipotong.

Adapun kata aydiyahuma (أيديهما)/tangan keduanya yang merupakan bentuk plural dari yad (يد) dapat diberlakukan dua pendekatan di atas, sementara pakar memahami kata yad (يد) dengan makna etimologisnya yakni tangan atau anggota badan dari siku sampai ke ujung jari dari pergelangan sampai ujung jari (Lihat, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Versi: Digital, Sumber: Play Store). Dan sementara pakar lainnya memahami kata yad (يد) dengan makna konotatifnya yakni kekuasaan/kekuatan (al-Quwwah (القوة) sebagaimana pada firman-Nya QS. Al-Fath [48]: 10: يَدُ الله فَوْقَ أَيدِيهم “Tangan/kekuasaan Allah di atas tangan-tangan/kekuasaan-kekuasaan mereka”. Sehingga, jika kita di Indonesia menerapkan KUHP pada kasus pencurian dengan memenjarakannya; kita tidak dinilai melanggar syariat Islam sebagaimana yang terkandung pada ayat di atas, karena kita memahami penggalan ayat di atas yakni (فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما) dengan “Lumpuhkanlah kekuatan-kekuatannya (pencuri).” Dan dengan memenjarakannya, kita telah berupaya melumpuhkan kekuatannya untuk melakukan tindak kriminal (baca: pencurian).

Konsep di atas juga sejalan dengan tujuan diberlakukannya sebuah hukum (Maqashid asy-Syari’ah (مقاصد الشريعة)) yakni memastikan keamanan dan keadilan bagi setiap individu (al-‘Adalah (العدالة)) serta membumihanguskan kezaliman, dan demikian akan terwujud dengan memenjarakan/menahan pencuri di balik jeruji besi; karena jika hanya memotong tangannya saja, tidak menutup kemungkinan dia memiliki ajudan yang banyak yang akan melanjutkan estafet kegiatan kriminalnya dikarenakan dia memiki otoritas/kekuatan untuk mengendalikan orang lain dengan keterbatasan fisiknya.

Adapun dari sumber yang lain, penulis menemukan pendapat senada dengan pendapat di atas yakni dalam buku Tafsir al-Mishbah karya Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, dia mengutip di dalamnya pendapat sementara orang -tanpa menyebutkan nama/sektenya- yang memahami perintah (فَاقْطَعُوا أَيدِيَهما) “Potonglah tangan keduanya.” dalam arti Majazi/metafora, yakni lumpuhkan kemampuannya !. Pelumpuhan dimaksud antara lain mereka pahami dalam arti “penjarakan dia !” akan tetapi Quraish Shihab secara eksplisit menanggapi penafsiran tersebut dengan menggenealogi dalih yang menjadi acuan penafsiran di atas, yaitu frasa iqtha’u lisanahu (اقْطَعُوا لِسَانَهُ)/potonglah lidahnya dalam arti jangan biarkan dia mengomel atau mengecam dengan jalan memberinya uang. Tetapi memahami potonglah tangannya serupa dengan potonglah lidahnya di samping tidak sejalan dengan praktek Rasul saw., juga tidak dikenal oleh masyarakat pengguna bahasa Arab pada masa turunnya al-Qur’an. (Lihat, Tafsir al-Mishbah, Jilid: 3, Hlm: 94-95, Penerbit: Lentera Hati, Tangerang. 2002).

Adapun Sayyid Quthb (1906-1966 M) -pujangga dan penafsir kenamaan Mesir- itu mengutarakan sebuah pandangan dalam Tafsirnya fi Zhilal al-Qur’an menyangkut hukuman penjara yang dijatuhkan terhadap pidana pencurian yakni dengan memaparkan kelemahan dari sanksi tersebut, adapun -tulis Sayyid Quthb- hukuman penjara yang temporer, tidak akan dapat mencegah pelaku kriminal -tidak terkecuali pencurian- untuk tidak mengulanginya kembali, dan jika demikian, maka tidak pula sampai kepada hakikat dan tujuan dari pemberlakuan dan perumusan sanksi itu sendiri yakni penjeraan; itu dikarenakan, dia tidak dapat melakukan tindak pidana hanya ketika dia berada di balik jeruji besi -itupun jika dia tidak memiliki anak buah, terlebih jika dia memiliki pesuruh yang bergerak aktif di luar penjara, maka dengan segala otoritasnya dia dapat melakukan segala hal yang dia inginkan-, adapun jika telah habis masa hukumannya di penjara; maka dia dapat melakukan tindak kriminal sesukanya. Maka dari itu sanksi yang paling efektif adalah apa yang Allah perintahkan dalam firman-Nya -yakni potong tangan-. (Lihat, fi Zhilal al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 273, Penerbit: Dar asy-Syuruq. Kairo. 2003).

Senada dengan Sayyid Quthb (1906-1966 M), Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (1932-2015 M) mengutarakan alasan serupa mengenai efisiensi sanksi potong tangan dalam tafsirnya al-Munir. Hukuman ini -tulis az-Zuhaili- meskipun ada sementara kalangan yang memandang negatif dan sinis terhadapnya, hukuman ini merupakan sanksi hukuman yang pas dan sangat efektif lebih bisa memberikan efek jera sekaligus menjadi pelajaran bagi orang lain, serta lebih bisa menciptakan keamanan bagi harta benda dan jiwa masyarakat. Tidak ada orang yang bisa memahami dan merasakan berbagai dampak bahaya psikis dan mental yang diakibatkan oleh tindak kriminal pencurian, serta kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan yang dimunculkan oleh tindak kriminal yang satu ini, terutama pada malam-malam yang gelap, kecuali korban yang mengalaminya. (Lihat, at-Tafsir al-Munir, Jilid: 3, Hlm: 514, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2003).

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (1932-2015 M) merangkum serta mendialogkan pendapat-pendapat imam mazhab kenamaan Sunni dengan penafsiran di atas dalam tafsirnya al-Munir dan penulis nilai ini dapat merepresentasikan penafsiran ulama-ulama klasik, tulisnya, Allah Swt menetapkan dan memerintahkan para pengelola kekuasaan dan pemegang otoritas hukum untuk menerapkan hukuman potongan tangan terhadap pencuri, baik laki-laki maupun perempuan.

Barangsiapa mencuri, baik laki-laki maupun perempuan, ia dijatuhi hukuman potongan tangan mulai dari pergelangan tangan. Pertama-tama, tangan yang dipotong adalah tangan kanan. Kemudian jika ia melakukan pencurian lagi, dipotong kaki kirinya mulai dari pergelangan kaki. Kemudian jika ia mengulangi lagi perbuatan mencuri, dipotong tangan kirinya. Kemudian jika masihmengulangi lagi perbuatan mencuri, maka dipotonglah kaki kanannya. Kemudian jika ia kembali mengulangi lagi perbuatan mencuri, ia dihukum takzir dan dipenjara. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ad- Daraquthni, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila ada seseorang mencuri, maka potonglah tangannya. Kemudian jika ia kembali mencuri lagi, maka potonglah kaki kirinya." (HR. ad-Daraquthni). Ini pendapat ulama mazhab Maliki dan mazhab Syafi’i.

Riwayat di atas selaras dengan riwayat yang tercantum dalam buku tafsir Syi’ah yakni Kitab ash-Shafi’ fi Tafsir al-Qur’an dari al-Baqir ‘alaihi as-salam dia berkata, ‘Amir al-Mu’minin (أمير المؤمنين)/pemimpin umat Islam ‘alaihi as-salam menetapkan sanksi bagi pelaku pidana pencurian, jika dia mencuri maka tangan kanannya dipotong, dan jika dia mengulanginya kembali maka kaki kirinya dipotong (min khilaf (من خلاف))/menyilang, dan jika dia mengulanginya lagi, maka dipenjarakan tanpa memotong kaki kirinya untuk dapat dia gunakan berjalan dan buang air kecil, dan tidak pula memotong tangan kirinya agar dapat dia gunakan untuk makan dan membersihkan kotoran sisa buang hajat.’ Dia juga berkata, ‘Aku merasa malu kepada Allah swt, jika aku membiarkannya hidup di luar penjara dan dia tidak memiliki manfaat apa-apa, maka dari itu, aku pun memenjarakannya sampai ajal menjemputnya.’ Dan dia juga berkata, ‘Sungguh Rasulullah saw tidak memotong -tangan atau kaki pencuri- setelah dia memotong tangan -kanan- nya dan kaki -kiri- nya.’ (Lihat, Kitab ash-Shafi’ fi Tafsir al-Qur’an, Jilid: 2, Hlm: 316, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Iran. 1419 H).

Sementara itu, ulama mazhab Hanafi dan ulama mazhab Hanbali mengatakan jika tangan kanan dan kaki kiri si pencuri telah dipotong jika ia kembali melakukan pencurian lagi, sudah tidak ada lagi hukum potong atas dirinya. (Lihat, at-Tafsir al-Munir, Jilid: 3, Hlm: 514, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2003). Adapun rincian terkait klasifikasi sanksi potong tangan ini, tidak akan dibahas pada tulisan ini dan Anda bisa merujuk kepada buku-buku fikih kontemporer dan klasik.
 -Allahu A'lam-

Daftar Rujukan:

1. Buku: Tafsir al-Mishbah, Penulis: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Penerbit: Lentera Hati. Tangerang. 2002.

2. Buku: Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Penulis: Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Penerbit: Dar al-Fikr. Beirut. 1399 H.

3. Buku: fi Zhilal al-Qur’an, Penulis: Sayyid Quthb, Penerbit: Dar asy-Syuruq, Kairo. 2003.

4. Buku: at-Tafsir al-Munir, Penulis: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Penerbit: Dar al-Fikr. Suria. 2003.

5. Buku: Kitab ash-Shafi fi Tafsir al-Qur’an, Penulis: Muhsin al-Faidh al-Kasyani, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Iran. 1419 H.

6. Aplikasi: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: Kelima, Sumber: Play Store.
Web: https://seniorkampus.blogspot.com.

7. Kajian rutin mingguan Tafsir Isyari oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar bertempat di Masjid Bait al-Qur’an, Tangerang Selatan.

(Penulis adalah mahasiswa tingkat 2 fakultas ushuluddin Universitas Al-Azhar)
Share:

Terbanyak Dibaca